Tangan Besi Kim Jong Un Buat Pembelot Korut Melempem

by admin
3 minutes read

Jakarta, BN Nasional — Sebelum pandemi Covid-19, Kim telah meningkatkan pengawasan di perbatasan. Kim juga meminta China untuk memperketat tindakan di sisi perbatasannya.

Menurut Kementerian Unifikasi Korea Selatan, selama periode April hingga Juni tahun ini hanya dua pembelot Korea Utara yang berhasil memasuki Korea Selatan. Jumlah ini merupakan yang paling sedikit dalam satu kuartal. Pada beberapa kuartal sebelumnya, jumlah pembelot Korea Utara bisa mencapai ratusan orang.

“Dia (Kim Jong Un) telah memblokir semua warga Korea Utara yang membelot dari negara itu,” kata Ha Jin-woo yang bekerja sebagai “perantara” di Korea Utara untuk membantu para pembelot pergi, sebelum melarikan diri pada 2013.

Kim menjadi pemimpin Korea Utara pada 2011, setelah kematian ayahnya, Kim Jong Il. Ha mengatakan beberapa pembelot menyatakan Kim Jong-un tidak banyak membantu memperbaiki kehidupan warga Korea Utara. “Orang-orang mengatakan hidup terlalu sulit akhir-akhir ini karena pemerintah mengambil lebih banyak barang dari orang-orang dan ada lebih banyak orang yang mati karena kelaparan,” jelas Ha.

Namun Kim telah memperkenalkan beberapa perubahan. Menurut sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Kementerian Unifikasi pada Kamis (16/12), Kim telah mengizinkan sektor swasta mengambil alih agen yang dipimpin negara untuk menjadi aktor ekonomi terbesar Korea Utara selama dekade terakhir.

Kementerian Unifikasi menyebut kenaikan awal dalam produk domestik bruto dan peningkatan mata pencaharian telah dilemahkan oleh sanksi internasional terkait senjata nuklir. Sementara penyelidik hak asasi mengatakan kontrol perbatasan yang dipaksakan berisiko menyebabkan kelaparan di antara warga Korea Utara yang rentan.

Perubahan arah kebijakan Kim belum dapat diterjemahkan sebagai reformasi sistemik. Kim telah mengawasi tindakan keras di bidang lain, seperti di media asing. Seorang pembelot, Park (23 tahun), mengatakan pemerintahan Kim Jong Un telah melarang film dan musik Korea Selatan. Park meninggalkan Korea Utara pada 2014.

“(Di bawah Kim Jong-un) saya merasa lebih disiplin di sekolah. Misalnya, sekolah lebih menindak seragam dan rambut. Mereka lebih melarang film atau musik Korea Selatan,” ujar Park yang meminta untuk diidentifikasi hanya dengan nama belakangnya.

Setidaknya tujuh orang telah dihukum mati di bawah kepemimpinan Kim karena menonton atau mendistribusikan video K-pop. Sejauh ini, Korea Utara belum merilis teks hukum pemikiran anti-reaksioner yang baru. Namun menurut Daily NK, hukuman tersebut dapat mencakup hukuman penjara atau kematian bagi orang-orang yang tertangkap mengimpor atau mendistribusikan konten asing. Media pemerintah mengatakan Korea Utara akan hancur jika pengaruh asing dibiarkan berkembang biak.

“Ada ketakutan nyata tindakan ketat ini akan bertahan lebih lama dari pandemi,” kata Sokeel Park dari Liberty di Korea Utara, yang mendukung pembelot.

Human Rights Watch (HRW) yang berbasis di Amerika Serikat melakukan wawancara dengan warga Korea Utara yang membelot setelah 2014. Warga tersebut masih memiliki keluarga dan kerabat yang tinggal di Korea Utara. Dalam wawancara, warga tersebut menuturkan Kim membuka ekonomi secara luas dan menutup penyeberangan perbatasan ilegal. Sementara praktik korupsi dinormalisasi dan ada kenaikan tuntutan pemerintah terhadap tenaga kerja yang tidak dibayar.

“Sama seperti ayah dan kakeknya, pemerintahan Kim Jong Un didasarkan pada kebrutalan, ketakutan, dan penindasan memicu pelanggaran hak sistematis, kesulitan ekonomi, dan kemungkinan kelaparan,” kata peneliti senior HRW Korea, Lina Yoon.

Korea Utara tidak menjawab pertanyaan dari wartawan asing. Namun mereka telah membantah tuduhan dari penyelidik hak asasi manusia, PBB, dan lainnya yang mengkritik situasi kemanusiaan dan pelanggaran hak asasi manusia.

sumber : Reuters

related posts