Harbour Pusing Pilih Partner Garap Blok Tuna

Jakarta, BN Nasional – Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyebutkan, Harbour Energy sedang pusing memilih partner baru untuk pengembangan Blok Tuna, setelah Zarbezhneft (ZN) keluar karena sanksi dari Uni Eropa.

Wakil Kepala SKK Migas Nanang Abdul Manaf mengatakan, Plan of Development (PoD) Harbour sudah selesai untuk melakukan pengembangan Blok Tuna, namun adanya konflik geopolitik Eropa, US, dan UK melakukan sanksi terhadap Rusia membuat ZN terpaksa menjual Participation Interest (PI) 50 persen.

“Jadi mohon maaf apapun yang terjadi transaksi tidak dibolehkan apalagi berpartner, itu yang membiuat kenapa tadinya ZN sebagai partner 50 persen (PI) itu terpaksa harus mundur. Kalau tidak, ya tidak bisa jalan karena dua-duanya tidak bisa bersatu karena ada sanksi,” jelas Nanan di Jakarta, Rabu (23/8/2023).

Baca juga  Ketum Kadin: UU Ciptaker Jawaban bagi Dunia Usaha meski Belum Sempurna

Keluarnya ZN dari Blok Tuna tentu memerlukan pengganti partner baru bagi Harbour, Nanang berharap dapat segera direalisasikan dan melakukan komersialisasi ke negara tetangga.

“Penggantinya banyak ada belasan yag nganti ingin menggantikan posisi ZN, yang pusing Harbour memilih mana yang cocok,” katanya.

Hasil produksi Blok Tuna nantinya akan dijual ke negara Vietnam. Hal tersebut dilakukan karena jarak fasilitas produksi Vietnam dari Blok Tuna hanya berjarak 20 Km, sedangkan apabila diserap dalam negeri membutuhkan pipa sepanjang 600 Km.

“Nah itu yang menjadi pilihan dan kebetulan kita juga punya bilateran yang bagus dengan vietnam. Government to Goverment (G2G) dulu nanti diselesaikan baru kita business to business (B2B), saya optimis G2G tidak ada masalah. Di satu sisi Vietnam butuh gas, kita punya gas bisa suply tergantung B2B harganya cocok,” jelas Nanang. (Louis/Rd)

Baca juga  Kementerian ESDM Optimis Hasilkan Produk Rare Earth yang Berharga 2024