Wilayah Wa di Myanmar Siap Cabut Larangan Tambang, Pasar Timah Global Beri Respons Positif

JAKARTA, BN NASIONAL –  Otoritas di wilayah otonomi Wa, Myanmar, bersiap untuk mencabut larangan penambangan timah yang telah diberlakukan sejak Agustus 2023.

Informasi ini diperoleh dari dokumen rancangan yang dilihat oleh International Tin Association (ITA), yang menyebut bahwa penambangan dan pemrosesan bijih timah di kawasan Man Maw dapat kembali dilakukan secepat mungkin setelah diskusi antara otoritas lokal akhir pekan lalu.

Komite Perencanaan Ekonomi Wa (EPC) dikabarkan akan mengumumkan secara resmi keputusan tersebut dalam waktu dekat. Namun, perusahaan-perusahaan yang ingin kembali beroperasi wajib mengajukan permohonan izin baru sesuai dengan skema perizinan yang diumumkan Februari lalu. Belum jelas berapa lama proses penerbitan izin ini akan berlangsung.

Larangan penambangan yang berlangsung selama hampir dua tahun telah memberikan dampak signifikan terhadap pasokan global. Pada 2024, produksi tambang timah Myanmar tercatat turun hampir 50% secara tahunan menjadi 21.300 ton, akibat habisnya stok bijih dan konsentrat yang ada. Sementara itu, pangsa impor bijih timah Myanmar ke Tiongkok juga menurun drastis, dari 56% menjadi 33%.

Baca juga  Pastikan Subsidi Tepat Sasaran, Pemerintah Siapkan Satgas dan Kaji Skema Penyaluran Baru

Dalam draf dokumen tersebut, EPC menekankan komitmennya untuk meningkatkan keselamatan kerja di Man Maw, mengoptimalkan pemrosesan bijih bermutu rendah melalui teknologi baru, serta memperbaiki kerangka hukum sektor pertambangan di wilayah tersebut. Otoritas juga menegaskan bahwa seluruh simpanan bijih, konsentrat, dan limbah tambang yang berada di atas tanah tetap menjadi milik pemerintah.

ITA melaporkan bahwa sejumlah perlengkapan pertambangan, termasuk bahan peledak, telah mulai diangkut menuju Man Maw, menandakan kesiapan untuk melanjutkan operasi.

Meski demikian, ITA menilai bahwa kembalinya produksi ke tingkat normal masih akan memerlukan waktu. Perusahaan-perusahaan harus mengantongi izin baru, melakukan pengeringan terhadap terowongan bawah tanah, serta mengurus kembali visa bagi tenaga kerja asing, khususnya dari Tiongkok.

ITA juga mencatat bahwa ketatnya pasokan konsentrat global kemungkinan akan bertambah buruk setelah penghentian sementara operasi tambang Bisie milik Alphamin di Republik Demokratik Kongo bagian timur. Namun, perkembangan di Myanmar ini diperkirakan akan mengurangi tekanan sisi pasokan dalam beberapa bulan ke depan.

Baca juga  Studi inovatif menemukan telur tidak membahayakan kesehatan jantung

ITA menyatakan akan terus memantau perkembangan di wilayah Wa dan menunggu pengumuman resmi pencabutan larangan dari otoritas setempat.