Sleep apnea dapat meningkatkan risiko penurunan kognitif, dan individu yang terkena dampaknya 50% lebih mungkin melaporkan masalah memori dan berpikir. Kredit: SciTechDaily.com
Sebuah studi baru menunjukkan hubungan antara sleep apnea dan peningkatan memori atau masalah berpikir, berdasarkan data yang dilaporkan sendiri oleh lebih dari 4.000 partisipan.
Orang yang mengalami sleep apnea kemungkinan besar juga memiliki masalah ingatan atau berpikir, menurut sebuah studi pendahuluan yang akan dipresentasikan di American Academy of Neurology’s 76.th Pertemuan Tahunan berlangsung 13–18 April 2024, secara langsung di Denver dan online. Studi tersebut menunjukkan hubungan positif namun tidak menentukan apakah sleep apnea menyebabkan penurunan kognitif.
Sleep apnea adalah ketika orang berhenti dan memulai kembali pernapasan berulang kali saat tidur yang dapat menurunkan kadar oksigen dalam darah. Gejalanya meliputi mendengus, terengah-engah, dan pernapasan terhenti. Orang dengan gangguan ini mungkin juga mengalami sakit kepala di pagi hari atau kesulitan fokus pada tugas.
Temuan dan Implikasi Studi
“Sleep apnea adalah kelainan umum yang sering kurang terdiagnosis, namun pengobatan sudah tersedia,” kata penulis studi Dominique Low, MD, MPH, dari Boston Medical Center di Massachusetts, dan anggota American Academy of Neurology. “Studi kami menemukan peserta yang memiliki gejala sleep apnea memiliki kemungkinan lebih besar mengalami masalah ingatan atau berpikir.”
Penelitian tersebut melibatkan 4.257 orang. Peserta menyelesaikan kuesioner yang menanyakan tentang kualitas tidur serta masalah memori dan berpikir. Untuk tidur, peserta ditanyai tentang mendengus, terengah-engah, atau jeda napas saat tidur. Untuk daya ingat dan berpikir, peserta ditanyai pertanyaan terkait kesulitan mengingat, periode kebingungan, kesulitan berkonsentrasi, atau masalah dalam pengambilan keputusan.
Dari seluruh peserta, 1.079 melaporkan gejala apnea tidur. Dari mereka yang memiliki gejala, 357 orang, atau 33%, melaporkan masalah ingatan atau berpikir dibandingkan dengan 628 orang, atau 20% orang tanpa gejala apnea tidur.
Setelah menyesuaikan dengan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi masalah ingatan dan berpikir, seperti usia, ras, jenis kelamin, dan pendidikan, para peneliti menemukan bahwa orang yang melaporkan gejala apnea tidur sekitar 50% lebih mungkin juga melaporkan memiliki masalah ingatan atau berpikir dibandingkan dengan orang yang mengalami masalah memori atau berpikir. yang tidak memiliki gejala apnea tidur.
Pentingnya Skrining Dini
“Temuan ini menyoroti pentingnya skrining dini terhadap apnea tidur,” kata Low. “Perawatan yang efektif seperti mesin Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) sudah tersedia. Tidur yang berkualitas, disertai dengan pola makan yang sehat, olahraga teratur, keterlibatan sosial, dan stimulasi kognitif, pada akhirnya dapat mengurangi risiko masalah pemikiran dan ingatan seseorang, sehingga meningkatkan kualitas hidup mereka.”
Keterbatasan penelitian ini mencakup data yang bersumber dari satu survei dan peserta melaporkan gejala mereka alih-alih diperiksa oleh profesional medis. Penelitian tambahan diperlukan menyusul gejala apnea tidur, ingatan, dan berpikir seseorang dari waktu ke waktu.





