JAKARTA, BN NASIONAL – PT Timah Tbk mengakui pengembangan logam tanah jarang atau rare earth element (REE) masih menghadapi sejumlah hambatan teknis, meski kajiannya sudah dimulai sejak 2010.
Direktur Pengembangan Usaha PT Timah, Suhendra Yusuf Ratu Prawiranegara, menjelaskan bahwa riset yang dilakukan perusahaan tidak bisa selesai dalam waktu singkat.
“Riset itu prosesnya tidak bisa sekali jadi. Dan dari sisi requirement ataupun spek yang harus diharapkan bahwa ini memang prudent dan memang berhasil dari sisi risetnya gitu. Ada beberapa yang persyaratan yang belum terpenuhi. Dan itu harus dilakukan lagi untuk bagaimana secara persyaratan ataupun spek itu terpenuhi,” kata Suhendra dalam sesi diskusi dengan wartawan di Pangkalpinang, dikutip Selasa (26/8/2025).
Salah satu kendala utama, kata Suhendra, terletak pada standar kandungan yang belum sesuai dengan persyaratan teknis.
“Begini, jadi ada persyaratan yang kalau tidak salah itu di 50 ppm terhadap kandungan dari pos 4.2. Nah, sementara yang dilakukan oleh PT Timah kemarin ini dan tim PT Timah itu masih di atas itu. Jadi, tidak memenuhi syarat. Nah, untuk itu kita harus lakukan lagi agar memenuhi spek dari yang sudah disyaratkan,” ungkapnya.
Meski demikian, PT Timah telah melakukan uji coba pilot project dengan kapasitas produksi sekitar 50 kilogram per hari. Namun, hasilnya masih belum memenuhi spesifikasi yang ditentukan.
“Ya, sebenarnya sudah masuk ke piloting project, tapi kalau dari sisi tadi memang dari kuantitas, oke, bisa terpenuhi, misalnya 50 kilogram untuk produksinya per hari itu. Tapi dari sisi tadi speknya terpenuhi apa tidak? Nah, ini yang menurut laporan jajaran di bawah saya masih belum,” tambah Suhendra.
Terkait ketersediaan deposit, Suhendra memastikan selama aktivitas penambangan timah masih berjalan, pasokan bahan baku logam tanah jarang tetap ada.
“Itu yang kemarin menjadi isu bagi Bu. Saya pikir selagi ada orang masih menambang timah, itu masih ada, kecuali tidak ada lagi menambang timah. Jadi, bagi saya no issue,” tegasnya.
Ke depan, PT Timah akan membuka peluang kerjasama dengan pihak swasta, BUMN, maupun perguruan tinggi untuk mempercepat pengembangan REE.
“Kalau secara piloting, pilot plan-nya sudah ada. Kita mulai. Tapi untuk kelanjutannya, apakah nanti dari sisi industri-nya itu seperti apa? Nah, ini yang nanti kita juga harus ada kerjasama dan membuka peluang kerjasama dengan pihak swasta dan pihak, kayak, katakanlah, expert di sini,” kata Suhendra.
Ia menambahkan, PT Timah juga sudah menjalin komunikasi dengan sejumlah institusi, termasuk ITB.
“Termasuk juga menjadi pensilnya Mendikti Saintek . Terus juga ada BUMN yang lain yang seperti Pindad. Dan kami kemarin sudah penjajakan untuk kerjasama dengan ITB. Kami sudah ketemu dengan rektor ITB, saat ini tahap penyempurnaan kerjasamanya. Penyempurnaan dari sisi PKS-nya. ToR-nya sudah selesai. Tinggal kita nanti PKS-nya clear, baru kita,” tutupnya.





