Ironi Kebebasan Beragama India: Masjid di Kashmir Ditutup Tiap Jumat

by admin
3 minutes read

Jakarta, BN Nasional — Bagi Muslim Kashmir, ini adalah tempat suci untuk sholat Jumat dan tempat mereka dapat menyuarakan hak-hak politik. Namun pihak berwenang India melihat Masjid Jamia sebagai sebuah masalah. Masjid selalu dianggap sebagai tempat para pemrotes dan pemberontak yang membahayakan kedaulatan India atas wilayah Kashmir yang disengketakan.

Dalam perselisihan pahit ini, Masjid Jamia sebagian besar tetap ditutup selama dua tahun terakhir dan imam kepala masjid telah menjadi tahanan rumah selama masa waktu itu. Kini, setiap hari Jumat gerbang utama masjid telah digembok dengan besi berukuran besar dan para jamaah dilarang memasuki masjid.

Pihak berwenang India mengizinkan masjid tetap buka selama enam hari lainnya, selain Jumat. Jumat adalah hari paling utama bagi umat Islam di mana laki-laki wajib menunaikan ibadah sholat Jumat di masjid. Penutupan ini menjadi upaya India untuk mengekang pergerakan umat Islam Kashmir.

“Ini adalah masjid pusat tempat nenek moyang, ulama, dan guru spiritual kami. Mereka begitu pun kami telah menggunakannya untuk sholat dan beribadah selama berabad-abad,” kata Altaf Ahmad Bhat, salah satu pejabat di masjid agung seperti dikutip dari Associated Press, Kamis (16/12).

Altaf menilai alasan pihak berwenang untuk menutup masjid setiap Jumat sangat tidak masuk akal. Dia menambahkan bahwa diskusi tentang masalah sosial, ekonomi, dan politik yang memengaruhi umat Islam adalah fungsi keagamaan inti dari setiap masjid agung.

Khotbah di Masjid Jamia sering kali membahas konflik yang telah lama memanas. Mirwaiz Umar Farooq, imam kepala dan salah satu pemimpin separatis terkemuka di kawasan itu, memberikan pidato berapi-api yang menyoroti perjuangan politik Kashmir. Pihak berwenang sering membatasi, melarang soalat di masjid untuk waktu yang lama. Menurut data resmi, masjid ditutup setidaknya selama 250 hari pada tahun 2008, 2010, dan 2016.

Bagi umat Islam di kawasan itu, penutupan masjid membawa kenangan menyakitkan di masa lalu. Pada tahun 1819, penguasa Sikh menutupnya selama 21 tahun. Selama 15 tahun terakhir, telah dilakukan pelarangan dan penguncian berkala oleh pemerintah India.

Akan tetapi pembatasan saat ini dinilai paling parah, sejak wilayah itu dibagi antara India dan Pakistan setelah kedua negara memperoleh kemerdekaan dari kolonialisme Inggris pada tahun 1947.

Pemerintah India awalnya bergulat dengan protes publik yang mendesak agar Kashmir bersatu, baik di bawah kekuasaan Pakistan atau sebagai entitas independen. Namun tindakan keras terhadap perbedaan pendapat itu menyebabkan pemberontakan bersenjata di Kashmir melawan India pada tahun 1989. India telah menggambarkan pemberontakan itu sebagai aksi terorisme yang disponsori Pakistan, tuduhan yang dibantah oleh Pakistan.

Konflik bersenjata kembali meningkat setelah Perdana Menteri Narendra Modi berkuasa pada tahun 2014 dan memenangkan pemilihan kembali dengan telak pada tahun 2019. Pemerintah nasionalis Hindu yang dipimpin Partai Bharatiya Janata Modi memperkuat pendiriannya baik terhadap separatis Pakistan dan Kashmir di tengah meningkatnya serangan oleh Hindu garis keras terhadap minoritas di India. Kondisi ini semakin memperdalam frustrasi di kalangan Muslim Kashmir.

Kebebasan beragama diabadikan dalam konstitusi India, memungkinkan warga negara untuk menganut dan mempraktikkan keyakinan yang dianut secara bebas. Konstitusi juga mengatakan negara tidak akan mendiskriminasi, menggurui, atau mencampuri ibadah agama apa pun. Akan tetapi bahkan sebelum operasi keamanan saat ini di Kashmir, para ahli mengatakan kondisi Muslim India di bawah Modi telah memburuk.

“Masjid Jamia mewakili jiwa iman Muslim Kashmir yang tetap menjadi pusat tuntutan hak-hak sosial dan politik sejak didirikan sekitar enam abad yang lalu. Penutupannya adalah serangan terhadap iman kita,” kata Zareef Ahmed Zareef, seorang penyair dan sejarawan lisan.

Ahmed, seorang jamaah, yang berkunjung ke masjid pada Sabtu mengagumi arsitektur kayu dan bata dengan 378 tiang kayu di masjid Jamia. Dia kemudian mengatakan belum pernah melihat masjid ditutup dan sepi untuk waktu yang lama. “Saya merasa dirampas dan dilanggar. Kami telah mengalami penderitaan spiritual yang ekstrem,” kata Ahmed.

sumber : AP

related posts