Perjalanan IBC Bangun Ekosistem Baterai Sulit, Industri Midstream Masih Sepi

JAKARTA, BN NASIONAL – Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (MASKEEI) menyebut perjalanan Indonesia Baterai Corporation (IBC) untuk mewujudkan roadmap ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) sulit dilakukan di Indonesia.

Ketua MASKEEI Andhika Prastawa mengatakan, kesulitannya ada di rantai industrinya yang belum tersambung. Di Indonesia industri yang ada baru upstream dan downstream, sedangkan midstreamnya masih minim.

“Upstream itu ekstraksi nikel dan sebagainya. Midstream itu penggunaan kathoda, precursor, dan sebagainya. Downstream itu meng-assembling menjadi baterai seperti hal yang kita pakai. Yang ada cuma di upstream dan di downstream,” kata Andhika saat acara China International Energy Storage (EESA) Summit 2025 di Jakarta, Selasa (29/4/2025).

Ia mencontohkan, beberapa pabrik baterai yang ada di Indonesia saat ini masih fokus di tahap downstream. Sedangkan minstreamnya masih minim.

Baca juga  BRIN Gandeng CNNC, Percepat Modernisasi Fasilitas Nuklir Indonesia

“Nah itu (midstream) di dalam perencanannya sudah ada tetapi tentu tidak semudah dan tidak semurah itu untuk membangun semuanya,” ujarnya.

Menurutnya, dengan tidak adanya industri midstream di dalam negeri tersebut membuat nilai tambah komoditas menjadi berkurang dan tidak maksimal.

“Jadi dari Morowali ke China dulu, nanti dari China melewati yang midstream, baru balik lagi ke sini sudah yang downstream. Jadi kita akan hilangkan added value yang di midstream,” jelasnya.

Ia menyarankan agar pemerintah dapat memperhatikan industri mindstream pabrik baterai secara bertahap agar dapat mendapatkan penambahan nilai tambah di dalam negeri.

“Jadi sebaiknya nanti kalau pemerintah mau mendapatkan secara penuh ya harus dari upstream sampai dengan downstream secara bertahap harus dipenuhi semua,” katanya.