Pertahankan Produksi Blok Rokan Tetap Prima, PHR Andalkan Inovasi Digital hingga EOR

JAKARTA, BN NASIONAL – Di tengah tantangan produksi minyak nasional, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus menunjukkan kinerja impresif dalam menjaga keberlanjutan produksi di Blok Rokan. Sejak alih kelola dari operator sebelumnya pada 2021, PHR berhasil menahan laju penurunan produksi dengan mengedepankan inovasi dan efisiensi teknologi.

General Manager Regional 1 Zona Rokan, Andre Wijanarko, menjelaskan, keberhasilan tersebut didukung oleh kegiatan masif seperti pemboran rata-rata 500 sumur pengembangan per tahun dan lebih dari 20 ribu aktivitas work over dan well intervention (WOWI) setiap tahunnya.

“Inovasi yang kami terapkan termasuk sistem pengawasan real time berbasis teknologi, yakni Digital & Innovation Center (DICE) dan Production Reliability and Innovation Management (PRIME). DICE menjadi pusat pemantauan data dari seluruh fungsi, yang bisa diakses kapan pun dan dari mana pun,” ujar Andre dalam keterangannya, dikutip Senin (16/6/2025).

Baca juga  Ubur-ubur Cantik Tapi Berbahaya Ini Baru Ditemukan di Lepas Pantai Jepang

Andre menyebut, Blok Rokan masih menyimpan potensi besar dan belum habis. Untuk itu, manajemen menyiapkan strategi jangka panjang, salah satunya melalui penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR) seperti waterflood, steamflood, dan chemical injection.

Sementara itu, Operation Head Subsurface Development and Planning PHR, Mochamad Taufan, menyebut EOR digunakan untuk mengalirkan sisa minyak di reservoir.

“Contohnya di Lapangan Minas, water cut-nya tinggi. Airnya 4 juta barel, tapi minyaknya hanya 29 ribu bph. Dengan chemical injection, sifat batuan diubah agar minyak lebih mudah mengalir. Tahun ini, paket lengkap Alkali-Surfactan-Polymer akan mulai diinjeksi,” jelasnya.

PHR juga mulai mengembangkan potensi dari Low Quality Reservoir (LQR) yang sebelumnya kurang diminati. Kajian internal menunjukkan potensi mencapai 1,2 miliar barel, meskipun recovery factor-nya masih di bawah 10%.

“Hingga kini, produksi dari LQR telah menyentuh hampir 10.468 bph, baik secara vertikal maupun horizontal,” jelas Taufan.

Baca juga  5 Menit Sehari untuk Menurunkan Tekanan Darah? Inilah Sains

Inovasi lainnya adalah program Multi Stage Fracturing (MSF) yang sukses dijalankan pada 2024, menjadi yang pertama berhasil di Indonesia. “Produksi dari satu sumur MSF mencapai 569 bph dan bertahan hampir setahun. Target kami tahun ini 10 sumur, dan bisa mencapai 30 sumur pada 2026,” ungkapnya.

Tak kalah strategis, pengembangan Migas Non Konvensional (MNK) juga mulai digarap dengan menggandeng EOG Resources. Dua sumur telah dibor di wilayah North Aman, yakni Gulamo dan Kelok, dengan temuan hidrokarbon menjanjikan.

“Lapisan di Gulamo dan Kelok setebal 1.500–2.000 feet dan 600–700 feet. Di North Aman saja potensi cadangannya bisa mencapai 2 miliar barel,” tambah Taufan.

Lewat berbagai upaya tersebut, PHR berhasil mempertahankan produksi Blok Rokan di kisaran 150 ribu bph dengan decline rate 0%. Padahal, menurut proyeksi operator sebelumnya, produksi bisa anjlok hingga 105 ribu bph tanpa kegiatan tambahan.

Baca juga  Terobosan Penurunan Berat Badan: Para ilmuwan menemukan kunci kekuatan pembakaran lemak dalam sel manusia

Keberhasilan ini tak lepas dari koordinasi erat dengan para pemangku kepentingan, termasuk Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) dan pemerintah daerah.

Kepala Divisi Eksplorasi SKK Migas, Sunjaya Eka Saputra, menyatakan pihaknya terus mendorong PHR agar pengembangan MNK seperti Gulamo dan Kelok berjalan optimal. “Potensi MNK sangat signifikan untuk meningkatkan lifting nasional. Kami juga sedang menyiapkan mekanisme early production sebelum Plan of Development (POD) disetujui, sebagaimana dilakukan pada sumur gas metana batubara (GMB) sebelumnya,” ujarnya.