Suasana Malam Natal di Betlehem di Tahun Kedua Pandemi

by admin
2 minutes read

Jakarta, BN Nasional — Kota di mana umat Kristiani percaya Yesus dilahirkan ini, biasanya menjadi titik fokus liburan, dengan ribuan orang memadati jalan-jalan dan memenuhi hotel.

Tetapi Israel, yang mengontrol semua pintu masuk ke Betlehem di Tepi Barat yang diduduki, melarang perbatasannya bagi orang asing dalam upaya untuk mengendalikan infeksi dari varian baru Covid-19 Omicron.

“Ini sangat aneh,” kata Kristel Elayyan, seorang wanita Belanda yang menikah dengan seorang Palestina, yang datang ke Betlehem dari Yerusalem.

“Sebelum (pandemi), Anda memiliki banyak orang yang datang dari berbagai negara untuk merayakan Natal, dan sekarang Anda tahu bahwa semua orang yang ada di sini mungkin bukan turis.”

Tahun lalu, Betlehem membatasi perayaan dengan tajam karena pandemi, dengan penerangan pohon virtual dan hanya segelintir orang yang berkunjung.

Tahun ini, perayaannya tentu lebih semarak, tetapi masih hanya sebagian kecil dari ukuran biasanya.

“Kalau satu tahun, itu pengalaman yang menarik,” tambah Elayyan tentang pandemi.

“Tetapi karena ini adalah tahun kedua dan kami tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, ini adalah kerugian besar bagi penduduk di sini.”

Namun menurut menteri pariwisata Palestina Rula Maayah, “berkat vaksin” telah membuat Betlehem bisa kembali merayakan (Natal).

Rata-rata, Kota Betlehem menyambut tiga juta pengunjung setahun sebelum pandemi, dengan Natal saja menarik 10.000 orang ke hotel-hotel kota, sekitar setengahnya berasal dari luar negeri.

Pemerintah kota mengatakan pihaknya bekerja tahun ini untuk menarik pengunjung lokal dari komunitas Palestina di seluruh Tanah Suci.

Beberapa hotel masih terlihat sibuk, tetapi sekitar seperempat kamar yang tersedia di seluruh kota ditutup karena pandemi, kata Elias Arja, kepala Asosiasi Hotel Palestina.

Beberapa tempat usaha memilih tutup pada hari Jumat, meskipun Malam Natal menjadi hari terpenting tahun ini bagi Betlehem.

Di dalam Gereja Kelahiran (Nativity) pengunjung bahkan dapat bermeditasi hampir sendirian di gua tempat Yesus dikatakan telah dilahirkan.

“Tentu saja ada bagian egois di mana saya menyukainya, karena bisa melihat tempat ini begitu kosong. Tetapi di sisi lain Anda merasa kasihan untuk toko-toko di sekitar, semua uang mereka hilang,” kata Hudson Harder, seorang mahasiswa Amerika berusia 21 tahun di Universitas Hebrew di Yerusalem.

Beberapa langkah dari basilika, gambar Paus Yohanes Paulus II dan Paus Fransiskus menutupi bagian depan toko yang menjual patung kayu zaitun berukir dan pemandangan kelahiran Yesus.

Pemiliknya, Victor Epiphane Tabash mengatakan, ini adalah Natalnya yang ke-57 di belakang konter. Baginya, seperti banyak pemilik toko di sekitar Manger Square, “tidak ada yang bisa dikatakan tentang Natal”.

“Hanya pramuka yang memberikan sedikit perasaan liburan,” katanya, ketika pasukan pramuka berseragam berbaris melewatinya, menyanyikan lagu-lagu Natal dengan drum, terompet, dan bagpipe.

Tabash mengatakan dia mempertahankan bisnisnya selama pandemi dengan mengekspor, karena tidak ada pelanggan yang datang untuk membeli secara langsung. Dia membandingkan pandemi dengan dua peperangan Palestina sebelumnya, atau intifada.

“Kami tetap bertahan hidup melalui intifada, perang. Tetapi Covid-19 lebih buruk,” katanya.

Sumber: AFP

related posts