Ahli saraf Universitas Georgetown menemukan bahwa anak-anak dengan gangguan perkembangan bahasa memiliki kelainan di area otak yang berhubungan dengan gerakan, sehingga menawarkan wawasan baru untuk diagnosis dan pengobatan. Kredit: SciTechDaily.com
Penelitian mengungkapkan kelainan otak pada anak-anak dengan gangguan perkembangan bahasa, menunjukkan potensi jalur baru untuk diagnosis dan pengobatan berdasarkan fungsi otak yang berhubungan dengan gerakan.
Sebuah analisis mendalam terhadap sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa bagian otak yang secara tradisional dikaitkan dengan gerakan adalah abnormal pada anak-anak dengan gangguan perkembangan bahasa, menurut ahli saraf Georgetown University Medical Center. Penemuan ini berpotensi meningkatkan diagnosis dan pengobatan kesulitan bahasa.
Mengungkap Kelainan Otak pada Gangguan Bahasa
Para peneliti menyelidiki kelainan otak pada gangguan perkembangan bahasa. Kondisi ini, yang berdampak pada perkembangan berbagai aspek bahasa, sama lazimnya dengan gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (ADHD) dan disleksia, dan lebih umum daripada autisme. Para ilmuwan menemukan bahwa kelainan terjadi secara spesifik pada neostriatum anterior di dalam ganglia basalis, sebuah struktur yang ditemukan jauh di dalam otak. Mereka menggambarkan temuan mereka pada 15 Maret di jurnal Sifat Perilaku Manusia.
Untuk lebih memahami mengapa gangguan bahasa terjadi, para peneliti menganalisis hasil dari 22 artikel yang meneliti struktur otak pada orang dengan gangguan tersebut, dan kemudian menggunakan metode komputasi baru untuk mengidentifikasi pola umum kelainan di seluruh penelitian. Mereka menentukan bahwa neostriatum anterior abnormal pada 100% penelitian yang meneliti struktur tersebut, dengan lebih sedikit kelainan di seluruh bagian otak lainnya.
Potensi Implikasi dan Penelitian Masa Depan
“Kami berharap bahwa dengan mengidentifikasi basis saraf dari kesulitan perkembangan bahasa, kami dapat membantu meningkatkan kesadaran akan gangguan besar, namun juga tidak dikenali,” kata penulis utama studi tersebut, Michael T. Ullman, PhD, profesor ilmu saraf dan direktur Brain. dan Laboratorium Bahasa di Georgetown University Medical Center. Namun, kami memperingatkan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami secara pasti bagaimana neostriatum anterior dapat menyebabkan kesulitan berbahasa.
Ullman mengatakan temuan ini menggarisbawahi potensi kegunaan obat-obatan yang diketahui dapat memperbaiki gangguan pergerakan akibat disfungsi ganglia basal, seperti obat yang bekerja pada reseptor dopamin. Intervensi yang mendorong kompensasi melalui struktur otak yang utuh mungkin juga berguna. Selain itu, kelainan ganglia basalis berpotensi menjadi penanda awal kemungkinan peningkatan masalah perkembangan bahasa. Tanda-tanda peringatan dini seperti itu dapat memicu prosedur diagnostik lebih lanjut, yang berpotensi mengarah pada terapi dini.
“Melanjutkan upaya penelitian untuk lebih memahami neurobiologi gangguan perkembangan bahasa, khususnya peran ganglia basalis, dapat membantu banyak anak yang terkena dampak masalah ini,” simpul Ullman.
Referensi: “Neuroanatomi gangguan perkembangan bahasa: tinjauan sistematis dan meta-analisis” oleh Michael T. Ullman, Gillian M. Clark, Mariel Y. Pullman, Jarrett T. Lovelett, Elizabeth I. Pierpont, Xiong Jiang dan Peter E. Turkeltaub, 15 Maret 2024, Sifat Perilaku Manusia.
DOI: 10.1038/s41562-024-01843-6
Selain Ullman, penulis lain di Georgetown termasuk Mariel Pullman, Jarrett Lovelett, Xiong Jiang, dan Peter Turkeltaub. Gillian Clark berada di Universitas Deakin, Melbourne, Australia. Elizabeth Pierpont berada di Pusat Medis Universitas Minnesota, Minneapolis.
Pekerjaan ini didukung oleh hibah NIH R01 HD049347 dan R21 HD 087088; NSF memberikan BCS 1439290 dan BCS 1940980; dan pendanaan dari Mabel H. Flory Trust.





