JAKARTA, BN NASIONAL
PT PLN Indonesia Power (PLN IP), perusahaan yang akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kalimantan Barat melakukan kunjungan ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kunjungan ini d ilakukan dalam rangka meningkatkan pengetahuan tim PLN IP terkait teknologi reaktor nuklir khususnya untuk pengembangan PLTN yang d ilakukan di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Rabu (22/5).
“Tujuan kami d isini adalah transfer knowledge untuk teman-teman dan untuk peningkatan pengetahuan. Kerja sama dengan BRIN ini sudah berjalan di tahun kedua yang konteksnya untuk pengembangan PLTN di Kalimantan Barat,” kata Perwakilan PLN IP Sugeng Triyono dalam keterangan tertulisnya d ikutip Senin (27/5/2024).
Perekayasa Ahli Utama, Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir (PRTRN) BRIN M. Dhadhang Purwadi mengatakan, PRTRN mempunyai tugas melakukan riset dan pengembangan teknologi reaktor nuklir.
“Salah satunya yaitu dengan menjalin kerja sama dengan PLN IP dan NuScale untuk kajian teknoekonomi assesment pembangunan PLTN di Kalimantan Barat,” kata Dhadang.
Selain itu, Dhandhang menerangkan salah satu reaktor yang d imiliki oleh BRIN yaitu Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG-GAS) yang sudah mulai beroperasi sejak tahun 1987 dan masih beroperasi hingga sekarang.
“Reaktor kita ini d inamakan serba guna, karena d igunakan untuk trainer, produksi radioisotop, dan juga untuk testing material. Jadi jika kita ingin menemukan material baru, kemudian kita menggunakan metalurgi d ipanaskan, karakterisasinya d ilakukan di sana, karena dengan neutron reaktor kita bisa lebih tajam memahami struktur lewis kisi-kisi dari material jauh lebih baik daripada dengan sinar X,” jelas Dhadhang.
“Jadi itulah yang d igunakan untuk meng-karakterisasi material. Seiring dengan perkembangan jaman, untuk menemukan material-material baru, reaktornya harus d inaikkan dayanya,” tambahnya.
Dhadang menambahkan, RSG-GAS memiliki daya 30 MW. Dayanya tidak d igunakan untuk listrik, karena panasnya di buang ke lingkungan. Hal ini d ikarenakan temperatur reaktor hanya d ibatasi 45 derajat celcius.
“Kenapa d idesain seperti itu karena yang kami butuhkan di sini bukan panasnya tetapi neutronnya. Reaktor bentuknya kolam di bawahnya ada inti reaktor atau d isebutnya teras reaktor,” ujar Dhadhang.
Salah satu peserta kunjungan Guwowijoyo mengungkapkan harapannya terkait pengembangan PLTN di Indonesia, karena selama ini d irinya masih belum familiar dengan nuklir.
“Kami familiarnya dengan pembangkitan jadi kami berharap kerja sama hubungan baik ini terus meningkat, terutama terkait pengembangan kerja sama PLTN terutama teknologi Small Modular Reactor (SMR) lainnya,” katanya.
“Karena kita melihat ke depannya untuk PLTN terutama pada teknologi SMR itu banyak yang masuk ke kita, adanya inisiasi kerja sama antara BRIN, PLN IP dan NuScale dalam pengembangan kajian teknoekonomi assesment. Teknologi SMR sangat banyak di seluruh dunia, dari Korea dan China juga mau menjalin kerja sama,” tambahnya.**





