Jakarta, BN Nasional – “Dalam G-20 Bank Sentral berkomitmen memperkuat sektor keuangan melalui monitoring dan optimalisasi digitalisasi. Sehingga G-20 menyiapkan pengawasan, regulasi dari aset kripto,” ucap Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers, Sabtu (16/7/2022).
Ia menjelaskan kerangka pengawasan dan regulasi terhadap aset kripto disiapkan agar tidak mengganggu sistem keuangan.
Sebelumnya Deputi Gubernur Bank Indonesia, Juda Agung mengungkapkan saat ini terdapat 20.000 jenis aset kripto di seluruh dunia, bahkan jumlah ini masih berpotensi bertambah. Perkembangan yang pesat ini tak terlepas dari perkembangan teknologi yang kian pesat di saat pandemi Covid-19
“Saat ini, ada lebih dari 20.000 jenis kripto pribadi mata uang di seluruh dunia. Jumlah tersebut diprediksi akan terus bertambah dari waktu ke waktu dan dana yang mengalir ke mata uang kripto pribadi juga akan terus bertambah dari waktu ke waktu,” ucapnya.
Masifnya penggunaan kripto di seluruh dunia, menjadi faktor mendasar Bank Sentral di berbagai negara untuk mengkaji secara mendalam mengenai Central Bank Digital Currency (CBDC). Terlebih, perkembangan aset kripto yang semakin pesat menimbulkan kekhawatiran munculnya risiko keuangan sejalan dengan tingginya kapitalisasi pasar yang dikombinasikan dengan adopsi yang kuat.
“Selain itu, transisi dari web 2.0 ke web 3.0 memungkinkan mereka untuk memperluas kasus penggunaan mereka, tidak hanya melalui ruang keuangan yaitu Decentralized Finance (DeFi) dengan fitur pinjam meminjam, dan pasar modal, tetapi juga menjadi use case ekonomi riil, yaitu metaverse,” ucapnya.
Dengan demikian, CBDC diyakini dapat memainkan peran penting bagi sistem keuangan masa depan, bahkan mata uang digital bank sentral ini juga dinilainya cocok untuk digunakan sebagai alat tukar yang sah dalam ekosistem terdesentralisasi.
Ekosistem ini belum tersedia dalam transaksi penggunaan uang kertas. Oleh karena itu, CBDC juga harus mampu tampil sebagai instrumen untuk mempengaruhi insentif pasar, serta untuk mengelola risiko keuangan yang muncul dari ekosistem terdesentralisasi.
Adapun berdasarkan survei BIS tahun 2021, 86% dari responden bank secara aktif meneliti (pengembangan) CBDC dan 60% di antaranya sedang dalam tahap eksperimen dan 14% telah menerapkan proyek percontohan
“Ini menjadi motivasi kuat bagi bank sentral di seluruh dunia dalam memperluas upaya mereka pada eksperimen CBDC,” ucapnya.
Sumber: Investor Daily





