Jakarta, BN Nasional – Ketua Umum Kamad Dagang dan industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid mengatakan, kebijakan pelarangan ekspor bijih bauksit harus diimbangi dengan peta jalan hilirisasi yang jelas. Tidak hanya melakukan pembangunan smelter yang banyak tanpa memiliki arah dan tujuan.
Arsjad membeberkan potensi sumber daya alam (SDA) dalam program hilirisai industri yang digaungkan pemerintah. Upaya pemerintah dalam hilirisasi industri ini mendorong peningkatan dalam pengolahan SDA lain di dalam negeri.
“Kita harus memanfaatkan kekayaan SDA kita untuk diolah sebaik mungkin dan menghasilkan nilai tambah yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Jadi itu yang menjadi dasar kenapa pemerintah mendorong untuk program hilirisasi industri,” kata Arshad, Rabu (28/12/2022).
Arsjad berharap hilirisasi bauksit akan berjalan seperti nikel yang terintegerasi dari hulu ke hilir sehingga menghasilkan nilai tambah yang tinggi dan bukan hanya sekedar barang setengah jadi.
Hiirisasi ini akan dapat mengakselerasikan pengolahan bauksit intu sampai menjadi produk almunium ingot pada 2024. Sehingga memberikan dampak baik ekonomi nasional melalui hilirisasi bauksit, industri ringan, dan logistik modern yang ramah lingkungan.
“Almunium ingot sangat diperlukan indsutri dalam negeri, seperti pelat, billet, scrap, dan bentuk proful yang diperlukan dalam proses di industri seperti pesawat terbang, kapal, otomotif, dan konstruksi,” katanya.
Dalam berberapa tahun kedepan, Arsjad mengharapkan sektor bauksit bisa diisi dari industri almunium dalam negeri. Dengan cadangan bauksit yang ada, Indonesia punya potensi memenuhi kebutuhan almunium sampai berberapa puluh tahun kedepan.
Diketahui, saat ini smelter atau pabrik pengolahan dan pemurnian bijih bauksit terdapat di Sulawesi Tengah dan Tenggara, Halmahera Timur dan Selatan, Galang Batang, Pulau Bintan, dan Kalimantan Barat.





