BN Nasional – Ketua Presidium Pimpinan Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PP KMHDI) I Putu Yoga Saputra mengatakan, kenaikan harga Pertamax dapat menimbulkan efek domino ke depan, dan tentu saja menimbulkan kerugian di sisi masyarakat. Pemerintah harus siap mengatasi hal itu.
“Naiknya harga BBM jenis Pertamax yang melambung tinggi dapat menimbulkan efek domino terhadap perekonomian Indonesia. Pasalnya BBM sudah menjadi kebutuhan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat dan tentu saja yang menanggung kerugian pada akhirnya adalah rakyat kecil,” ujar I Putu Yoga Saputra, Rabu (6/4/2022) dalam keterangan tertulisnya.
Ia juga menjelaskan, kenaikan harga Pertamax akan memicu persoalan lain, yakni terganggunya ketersediaan jenis Pertalite. Hal ini bisa saja terjadi jika konsumen BBM Pertamax berbondong-bondong beralih ke BBM jenis Pertalite.
“Naiknya harga BBM jenis Pertamax bisa menyebabkan beralihnya konsumen BBM jenis Pertamax ke BBM jenis Pertalite yang harganya lebih murah. Apabila ini terjadi tentu akan mengganggu ketersediaan atau pasokan BBM jenis Pertalite yang dapat berdampaknya kosongnya stok BBM jenis Pertalite di banyak SPBU,” ujarnya.
Yoga Saputra mengungkapkan, kenaikan BBM jenis Pertamax dapat menimbulkan kenaikan biaya produksi dan operasional dalam sektor industri dan hal tersebut tentu berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat.
“Kenaikan harga BBM jenis Pertamax juga akan berimbas pada pelaku industri, biaya produksi dan operasional akan meningkat yang berujung pada naiknya harga produk yang dihasilkan, dan kemudian berdampak pada menurunnya daya beli konsumen. Tentu hal ini juga berdampak pada perekonomian Indonesia secara menyeluruh,” ungkap Yoga.
Karena kenaikan harga BBM saat ini dapat menimbulkan efek di multidimensi, mengingat masyarakat Indonesia masih berada dalam situasi Covid-19.
Sebelumnya, pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) pada 1 April 2022. Harga Pertamax naik dari sekitar Rp 9.000-Rp 9.400 per liter menjadi Rp 12.500-13.000 per liter di 34 provinsi di Indonesia. Sementara itu, untuk BBM subsidi jenis Pertalite (RON 90) tidak mengalami perubahan harga atau dipatok sama atau satu harga di seluruh provinsi, yakni Rp 7.650 per liter.
Sumber.
Sumber





