BN NASIONAL.
Pemerintah dan Inpex Masela mulai menggarap Blok Masela di Laut Arafura, Maluku. Proyek ini d itargetkan menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun.
Rincian biaya yang d iperlukan untuk mengembangkan Lapangan Abadi Masela meliputi biaya investasi (di luar sunk cost) sebesar US$ 20,9 miliar, Biaya Operasi sebesar US$ 12,97 miliar, dan biaya Abandonment and Site Restoration (ASR) sebesar US$ 830 juta.
Total cadangan gas Lapangan Abadi adalah sebesar 18,54 TSCF dengan kumulatif produksi gas 16,38 TSCF (gross) atau 12,95 TSCF (sales) dan kondensat 255,28 MMSTB. Kapasitas produksi 1.600 MMSCFD + 150 MMSCFD (pipeline), kondensat 35.000 BCPD.
Proyek ini menggunakan skema Kontrak Bagi Hasil yang menetapkan perusahaan pengembang minyak dan gas alam yang melakukan pekerjaan eksplorasi, pengembangan, dan produksi dengan biaya sendiri sebagai kontraktor pemerintah negara penghasil minyak, berhak atas recovery biaya eksplorasi, pengembangan, dan produksi selama tahap produksi dalam bentuk sebagian dari hidrokarbon yang di produksi.
Bagian yang tersisa kemudian d ibagi antara negara penghasil minyak dan kontraktor sesuai dengan rasio alokasi yang telah d itentukan. Di Indonesia, persetujuan pemerintah d iperlukan ketika menentukan tingkat recovery biaya yang d iizinkan, di mana tingkat yang lebih besar mengarah pada peningkatan arus kas dan ekonomi proyek bagi kontraktor.
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, Proyek Abadi Masela dapat d ipercepat penyelesaian dari target onstream di triwulan III 2029. Dengan percepatan ini, akan berpotensi mempercepat penerimaan pendapatan dari proyek yang mencapai US$5 miliar.
“Sebaliknya jika terjadi keterlambatan akan berpotensi tambahnya biaya proyek sekitar US$ 1 miliar setiap tahunnya d iluar tambahan biaya tenaga kerja,” kata Dwi.
Managing Executive Officer, Senior Vice President, Asia Projects, INPEX Akihiro Watanabe mengatakan, volume produksi LNG tahunan proyek LNG Abadi di perkirakan akan mencapai 9,5 juta ton dan d iharapkan dapat berkontribusi untuk meningkatkan ketahanan energi di Indonesia, Jepang dan negara-negara Asia lainnya serta menghasilkan pasokan energi bersih yang stabil dalam jangka panjang.
“INPEX sangat menghargai dukungan dari SKK Migas dan pemerintah Indonesia dalam merevisi POD untuk memasukkan CCS, yang merupakan momentum baik bagi kami. Ke depannya, INPEX bersama JVP dengan sungguh-sungguh akan mengimplementasikan revisi POD melalui dukungan dan bimbingan dari SKK Migas dan pemerintah.” jelas Akihiro.(*)





