Arsip Evolusi yang Hidup – RisalahPos.com

Citra satelit Atol Aldabra terpencil di Samudera Hindia yang ditangkap oleh Operational Land Imager-2 di Landsat 9 pada 24 Juni 2022.

Pulau-pulau karang besar di lepas pantai Afrika adalah rumah bagi kura-kura raksasa dan kehidupan burung yang unik.

Atol Aldabra di Samudera Hindia adalah salah satu terumbu karang terbesar di dunia. Atol ini, terdiri dari pulau-pulau karang yang mengelilingi laguna dangkal, dikenal dengan ratusan endemiknya jenis—termasuk kura-kura raksasa Aldabra—yang tinggal di sana. Menurut UNESCO, Aldabra memiliki “salah satu habitat alami terpenting untuk mempelajari proses evolusi dan ekologi.”

Terpencil dan Terpelihara

Terletak lebih dari 400 kilometer (250 mil) barat laut Madagaskar dan lebih dari 600 kilometer (375 mil) timur daratan Afrika, Aldabra adalah salah satu pulau terluar karang di Seychelles. OLI-2 (Operational Land Imager-2) di Landsat 9 menangkap gambar atol terpencil ini pada tanggal 24 Juni 2022. Pasang surut mengalir masuk dan keluar laguna melalui saluran antara pulau-pulau besar di sekelilingnya. Puncak daratannya hanya 8 meter (26 kaki) di atas permukaan laut.

Baca juga  BRIN Perkuat Peran Energi Nuklir untuk Masa Depan Bangsa

Karena lokasi pulau-pulau yang terisolasi, medan yang berat, dan kelangkaan air bersih, jejak kaki manusia di atol tersebut relatif kecil. Sebuah stasiun penelitian di Pulau Barat (juga disebut Pulau Picard) telah beroperasi sejak tahun 1971, namun pariwisata dibatasi dan dikontrol dengan hati-hati. Atol Aldabra ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1982 dan situs Ramsar pada tahun 2009.

Keanekaragaman Hayati dan Konservasi

Meskipun atol ini mungkin terpencil dan terjal, atol ini tidaklah terpencil. Kawasan ini berisi berbagai habitat yang telah memacu evolusi flora dan fauna yang memiliki sifat khusus. Habitat atol yang bervariasi mendukung banyak spesies, termasuk populasi burung cikalang terbesar yang berkembang biak di Samudera Hindia dan satu dari hanya dua populasi flamingo samudera di dunia.

Dalam satu kasus yang luar biasa, spesies burung di Aldabra berevolusi menjadi tidak bisa terbang—dua kali. Pulau-pulau tersebut telah tenggelam sepenuhnya setidaknya sekali dalam sejarahnya ketika permukaan laut rata-rata global lebih tinggi, sehingga memusnahkan semua kehidupan di atol tersebut. Catatan fosil berisi bukti adanya rel yang tidak bisa terbang (seekor burung dalam keluarga yang sama dengan coots dan crakes) sebelum penyelaman terakhir, dan rel terbang berleher putih yang berevolusi untuk hidup di tanah setelah pulau-pulau tersebut muncul kembali. Dengan kurangnya predator darat dan berlimpahnya makanan, burung ini berkembang biak tanpa kemampuan terbang.

Baca juga  Parlemen Kuwait: Bagaimana Bisa Kutuk Invasi Rusia, Tapi Bungkam Pendudukan Israel?

Tujuh jenis lahan basah yang berbeda, termasuk perairan laut dangkal dan padang lamun, terdapat di Aldabra. Hutan bakau melapisi sebagian besar sisi pulau-pulau besar yang menghadap laguna. Kawasan ini menyediakan tempat bersarang bagi burung-burung yang berenang, serta tempat mencari makan bagi penyu, hiu, dan spesies laut lainnya.

Satu-satunya kura-kura raksasa Aldabra yang masih hidup di alam liar dapat ditemukan di Aldabra Atoll, barat laut Madagaskar. Kredit: Dennis Hansen, Universitas Zurich

Di darat, kura-kura raksasa Aldabra yang sebagian besar merupakan herbivora (atas) berada di puncak rantai makanan terestrial. Populasi spesies kura-kura sosial ini diperkirakan melebihi 100.000 ekor. Laki-laki dapat memiliki berat hingga 250 kilogram (550 pon) dan berukuran panjang 1,2 meter (4 kaki).

Pada tahun 2018, sekelompok kecil kura-kura raksasa Aldabra diperkenalkan kembali ke negara tetangga Madagaskar, di mana tidak ada kura-kura raksasa yang hidup selama 600 tahun karena perburuan yang berlebihan. Para ahli ekologi percaya bahwa makhluk yang bergerak lamban ini dapat mendorong regenerasi hutan di lahan penggembalaan ternak dengan mendistribusikan benih melalui kotoran mereka. Mereka juga dapat menekan risiko kebakaran dengan memakan rumput dan dedaunan kering.

Baca juga  Bamsoet: Tidak Ada Celah untuk Gagalkan Pelantikan Prabowo-Gibran

NASA Gambar Observatorium Bumi oleh Wanmei Liang, menggunakan data Landsat dari Survei Geologi AS.