Baru Dilantik, Kepala SKK Migas Mendapatkan Tugas Berat Dari Komisi VII DPR RI

Jakarta, BN Nasional – Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto yang baru dilantik Senin (5/12/2022) lalu melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor : 51/M Tahun 2022 mendapatkan tugas dari Komisi VII DPR RI untuk meningkatkan produksi minyak.

Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto mendesak Kepala SKK Migas Dwi Soeripto agar menggenjot program 1 juta BPH (barel per hari) minyak di tahun 2030.

Mulyanto berharap target tersebut dapat tercapai, syukur-syukur bisa lebih cepat dari jadwal. Karena angka target sudah disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi cadangan migas yang ada.

“Jangan seperti sekarang ini, pemerintah hanya gembar-gembor jargon 1 juta barel minyak, namun faktanya setiap tahun target lifting tersebut terus merosot menjadi sekitar 600 ribu BPH. Sementara realisasi target tersebut juga tidak seratus prosen tercapai. Artinya target lifting kita bukan mendekati 1 juta BPH, tetapi malah menjauhi. Ini kan kontradiktif, aneh bin ajaib,” ujar Mulyanto, Kamis (8/12/2022).

Baca juga  Bukti Keberhasilan Airlangga Koordinasikan Tim Ekonomi Pemerintah, Ekonomi Tumbuh 5,3 Persen

Menurut Mulyanto, pimpinan SKK Migas yang baru ini agar proaktif mengkaji dengan matang terkait dengan revisi UU Migas. Jangan seperti sekarang dimana pemerintah terkesan plin-plan dalam melaksanakan perintah MK untuk merevisi UU Migas ini, khususnya terkait dengan kelembagaan Badan Pelaksana Hulu Migas.

“SKK Migas ini kan lembaga sementara. Namun sudah hampir 10 tahun tetap dipertahankan. Ini kan soal kepastian hukum di bidang migas. Jadi jangan heran kalau soal ini diduga menjadi salah satu penyebab hengkangnya investor raksasa migas seperti ConocoPhilip, Chevron, Shell, dan lainnya dari Indonesia,”kata Mulyanto.

“Di tengah industri migas yang semakin senja kala didesak oleh energi baru dan terbarukan (EBT), serta impor kita yang masih tetap tinggi di saat harga melambung, semestinya pemerintah segera merumuskan grand design strategi pengembangan migas ke depan, termasuk soal kelembagaannya. Bila tidak kita akan terus menjadi aktor pinggiran yang pontang-panting terimbas turbulensi dinamika lingkungan strategis,” tambah Mulyanto. (Louis)

Baca juga  Realisasi TKDN Sektor Ketenagalistrikan Capai 39,86 Persen