Eksplorasi Hulu Migas Lamban, Kementerian ESDM Beri Himbauan

Jakarta, BN Nasional – Pemerintah memiliki target produksi minyak 1 juta barel per hari dan 12 miliar gas standar kaki kubik per hari (BSCFD) di tahun 2030, namun hal ini tidak selaras dengan yang ada di sektor hulu migas.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tutuka Ariadji menyinggung rendahjnya eksplorasi yang dikerjakan Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu (SKK) Migas.

“Jadi kalau kita lihat eksplorasi masih kurang, masih lambat, ya ada tapi lambat,” kata Tutuka di Kementerian ESDM, Selasa (8/8/2023).

SKK Migas menargetkan investasi di sektor hulu migas pada semester 1 tahun 2023 sebesar $7,4 miliar USD, namun realisasi hanya sebanyak $5,7 miliar USD yang artinya baru 77 persen dan tidak mencapai target.

Baca juga  JK: 11 Konflik Besar Indonesia Terjadi karena Ketidakadilan

“Perlu percepatan berbagai segi eksplorasi itu ya, dari proses bisnisnya harus dipercepat perizinannya, masih kurang investasi proses bisnis. Investasi juga harus dipercepat kalau dari sisi kecepatan masih kurang,’ katanya.

Tingkat Reserves Replacement Ratio (RRR) tahun 2023 belum memuaskan untuk sumur baru, RRR banyak dihasilkan oleh sumur bor yang lama melalui optimalisasi.

Data SKK Migas per semester 1 tahun 2023, penambahan cadangan migas menyentuh di angka 340 MMBOE, dengan rencana investasi mencapai US$7,87 miliar.

“Lumayan kalau dari segi blok yang kita tawarkan dan laku itu kan lumayan banyaklah kalau kita lihat dari situ,” katanya.

Tutuka menghimbau kepada SKK migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) untuk menjalankan apa yang telah direncanakan secara baik dengan implementasi yang sesuai.

“Apa yang telah direncanakan itu ditepati, rencananya bagus tapi implementasinya sesuai dengan rencanannya itu saja,” kata Tutuka. (Louis/Rd)

Baca juga  Setelah Gerindra dan PKB Berkoalisi, Pengamat Prediksi Bakal Ada 4 Poros dengan Ambang Batas Capres 2024 Terpenuhi