Jakarta, BN Nasional – Anggota Komisi VII DPR RI Rofik Hananto menuntut pemerintah untuk menurunkan harga Pertalite imbas turunnya harga minyak dunia. Dilansir dari Bloomberg Senin (19/12/2022) mencatat harga minyak mentah WTI AS ada di level 75,25 dollar AS per Barrel dan mintak mentah Brent seharga 80 dollar AS
Rofik mengatakan, seharusnya penurunan harga minyak dunia juga diikuti dengan turunnya harga BBM bersubsidi di dalam negeri juga. Terlebih, sudah ada beberapa negara maju seperti Inggris dan Amerika yang sudah menurunkan harga BBM-nya terlebih dahulu.
“Kan ngenes, masyarakat di dunia menikmati turunnya harga, sementara masyarakat kita yang ekonominya masih susah ini tidak ikut menikmatinya,” kata Rofik, Jakarta, Minggu (18/12/2022).
Rofik juga merespon alasan pemerintah tidak menurunkan harga BBM subsidi dikarenakan Pertalite belum mencapai harga keekonomian. Menurutnya, dana kompensasi dan subsidi pemerintah sebelumnya sudah dialokasikan dengan asumsi 100 dollar AS per barel. Sehingga sudah seharusnya ketika harga minyak dunia turun begitupula dengan harga BBM subsidi.
“Jadi dana ini sudah menjadi hak masyarakat. Sehingga, kalau level harga minyak mentah sudah di bawah asumsi ya otomatis harus turun juga harga BBM-nya,” katanya.
Selain itu, penurunan harga BBM bersubsidi ini seharusnya dilakukan sejak Agustus 2022 lalu, di mana ketika itu harga minyak dunia juga sudah mengalami penurunan. Rofik menekankan pemerintah untuk konsisten dengan penggunaan dana kompensasi dan subsidi yang sudah dialokasikan tersebut, terlebih dana tersebut tercantum dalam APBN yang juga disepakati dengan DPR.
Rofik menilai, sikap pemerintah yang inkonsisten ini dapat memunculkan kecurigaan masyarakat terhadap upaya pembangunan pemerintah lainnya.
“Apalagi saat ini sebagian publik menengarai banyaknya alokasi anggaran yang tidak tepat seperti anggaran negara untuk kereta cepat, pembangunan IKN, rencana pemberian insentif subsidi untuk pembelian kendaraan listrik dan lain-lain,” jelasnya.





