Jakarta, BN Nasional –
Terlebih, pemerintah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 menargetkan swasembada gula konsumsi di tahun 2025.
Salah satu langkah strategis Kementerian BUMN dalam menggapai swasembada gula nasional adalah pembentukan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN).
Perusahaan ini merupakan sub holding dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), yang fokus di bidang industri gula, mulai dari hulu hingga hilir. SGN saat ini mengonsolidasikan 36 pabrik gula di seluruh Indonesia.
“Untuk mencapai swasembada gula kristal putih tahun 2025, produksi GKP dalam negeri harus sebesar 3,9 juta ton,” ujar Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), M Abdul Ghani, dalam keterangan tertulinya Sabtu (2/7/2022).
Ghani menjelaskan, PTPN Group melalui SGN mendukung penuh upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada gula nasional. Dukungan tersebut tidak semata berlandaskan perhitungan dan kalkulasi usaha dan aspek komersial.
PTPN Group sebagai perusahaan BUMN, memiliki kewajiban moral untuk membangun dan mendukung ketahanan pangan, termasuk ketersediaan pasokan dan stabilitas harga gula konsumsi.
“Melalui SGN, PTPN Group akan melakukan transformasi kelas dunia di komoditas tebu dan gula,” ujar Abdul Ghani.
PTPN Group memberikan tanggung jawab dan target operasional kepada PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) agar mampu memproduksi gula konsumsi sebanyak 2,6 juta ton per tahun.
Selain itu, meningkatkan produktivitas perkebunan tebu dari 67 ton per hektare (ha) menjadi 97 ton per ha. Target ini merupakan target jangka menengah, yang harus terealisasi pada 2030.
Dalam rangka memenuhi target swasembada gula tersebut, SGN telah menyusun cetak biru atau blue print model bisnis dan operasional. Di dalam blue print tersebut, SGN akan meningkatkan kinerja operasional, baik di sektor hulu, maupun hilir.
Di sektor hulu, SGN berupaya melakukan ekstensifikasi (peningkatan produksi melalui penambahan luas lahan tebu) melalui serangkaian kerja sama pemanfaatan lahan, termasuk lahan bengkok milik pemerintah desa di seluruh Indonesia. SGN juga melakukan intensifikasi (peningkatan produktivitas bahan baku tebu) melalui pendampingan dan pembinaan Petani Tebu Rakyat (PTR).
“Saat ini, PTPN Group menguasai 132.524 ha lahan tebu, sedangkan total lahan tebu milik PTR mencapai 228.584 ha,” ujar Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara, Aris Toharisman.
Aris mengatakan, SGN akan melalukan serangkaian pendekatan, pembinaan, dan pendampingan kepada PTR. Perusahaan akan memperbaiki sistem budidaya tebu melalui perbaikan kualitas bibit, pupuk, dan pestisida, pengaplikasian teknologi dan smart farming, akses permodalan dan asuransi pertanian, hingga jaminan pembelian hasil panen atau off-taker.
“Melalui serangkaian pendampingan holistik, harapannya produktivitas tebu PTR meningkat,” ujar Aris.
Di sektor hilir, SGN memiliki target meningkatkan kualitas rendemen gula, dari 7,3% menjadi 11,2% pada 2030. Peningkatan rendemen ini akan mengakselerasi produksi gula, dari 800.000 ton menjadi 2,6 juta ton per tahun. Langkah peningkatan tersebut membutuhkan investasi, khususnya pengadaan mesin dan teknologi terbaru.
Berbekal arus kas (cash flow) positif, PTPN Group akan melakukan revitalisasi dan peremajaan mesin serta peningkatan fasilitas pabrik gula milik SGN.
Selain itu, perseroan akan meningkatkan proses riset dan pengembangan guna menghasilkan varietas bibit tebu unggulan dan teknologi terapan di industri gula. Kementerian BUMN turut mengupayakan kerja sama antara SGN dengan mitra strategis, yang berpengalaman dan menjadi key leader (pemain utama) industri gula di pasar internasional.
Swasembada gula konsumsi menjadi sebuah keniscayaan, dengan syarat Pemerintah dan seluruh anak bangsa bersatu padu membangun kembali kejayaan industri gula nusantara.
Swasembada gula tidak akan terlaksana dan tercapai tanpa peningkatan produktivitas tebu mulai dari hulu hingga ke hilir. Peningkatan produktivitas, menjadi kunci utama untuk mewujudkan kesejahteraan PTR. Menurut kalkulasi PTPN Group, jika produktivitas budidaya tebu mencapai 8 ton per ha, maka PTR dapat meraih sisa hasil usaha (SHU) sebesar Rp 25.695.368.
“PTPN Group optimistis, dalam waktu kurang dari 5 tahun, produktivitas PTR mencapai target, sehingga kesejahteraan mereka turut meningkat,” pungkas Abdul Gani.





