Tiga Mawarnih Hadirkan “Duka di Dadaku” di Album NJE

by admin
4 minutes read

Jakarta, BN Nasional — Tiga Mawarnih yang digawangi oleh tiga personil yakni Mudrikha (gitar), Franky (bass), dan Riza (drum) melalui label JK Records, merilis album terbarunya NJE, yang salah satu lagunya berjudul “Duka di Dadaku” feat Nike Astrina.

Peluncurannya akan ditayangkan di YouTube Channel JK Record dan dapat didengarkan di seluruh digital streaming platform seperti YouTube Music, Spotify, Joox, Deezer, Langit Musik, dan lainnya.

Lagu “Duka di Dadaku” ini merupakan salah satu dari tiga lagu andalan Tiga Mawarnih bertajuk NJE yang berisi 10 lagu.

Selain lagu tersebut juga ada lagu yang berduet dengan Rahmat Kartolo dan Pance Pondaag. Sembilan lagu lainnya yakni “Njelepet”, “Kucari Jalan Terbaik”, “Njetuan”, “Kunanti Jawabmu”, “Njeraden”, “Reken Reken Ketepu”, “Njedoro”, “Njeayu” dan “Njejemiherje”.

Terkait nama Tiga Mawarnih, menurut salah seorang inisiatornya saat tampil di Java Jazz waktu itu banyak yang menanyakan, dan penasaran dengan keberadaannya. Selain tidak mau menggunakan nama di luar bahasa Indonesia, juga karena saat itu suka dengan kata plesetan.

“Saya sebut aja Tiga Mawarnih, eh ternyata saya baru inget ada penyanyi senior (mbak Iga Mawarni), yang ternyata dulunya juga artis JK Records. Nah cuman kita plesetin jadi ‘tiga mawar nih’,” ujar Riza dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, Selasa (23/11/2021).

Dikatakan, nama Tiga Mawarnih diibaratkan tiga mawar berduri, bukan mawar yang biasa saja, karena musik kita bergenre fusion funk bukan pop manis. “Dan kita juga sudah izin dengan mbak Iga (Iga Mawarni, red) kalau kita pakai nama band hampir mirip dengan namanya,” sambung Franky.

Franky mengatakan, saat ini Tiga Mawarnih bekerja sama dengan JK Record untuk musik yang menunjukkan fesyen-nya, yakni fusion funk.

“Kalau untuk viral atau laku lagunya, kita serahkan kepada netizen dan fans yang akan mendengarkan musik kita, kayak Nirvana aja, dulu musiknya banyak dihujat, nggak tau-nya laku. Intinya kita tetap bermusik yang sesuai dengan warna kita,” tutur Franky.

Menurut Riza, Tiga Mawarnih adalah legacy untuk anak cucu kita dalam sejarah musik Indonesia di masa depan, walaupun basic musikalitas yang dimilikinya adalah rock, namun keberagaman latar belakang musikalitas ini yang membuat Tiga Mawarnih masih tetap bertahan hingga sekarang.

“Jadi selama 15 tahun musik yang kita mainkan hanya bergenre ini, kita hanya men-delivery dengan musik yang menjadi identitas kita. Tapi di album ini kita di-challenge untuk sesuatu yang beda dari yang sebelumnya dengan men-delivery yang ada vokalnya,” papar Riza.

Menanggapi tentang kompetitor dengan band-band sekarang ini, Tiga Mawarnih ingin menerobos gaya musikalitasnya.

“Musik sekarang kan berputar, anak muda sekarang suka dengan musik lama era 80-an dan 90-an. Nah kita ambil momennya juga, sekalian kita masukkan unsur Tiga Mawarnih-nya. Entah Franky main bass-nya melodi atau pun lainnya,” papar Mudrikha yang juga berharap bahwa lagunya ini bisa diterima di pasaran serta banyak disukai oleh para pecinta musik Indonesia.

Sementara itu, Leonard Nyo Kristianto selaku produser JK Records menjelaskan, ketertarikannya dengan Tiga Mawarnih selain memang sudah saling kenal lama, dirinya juga kagum yang hanya dengan tiga personil (drum, bass, dan gitar), musiknya bisa komplit.

“Kebetulan juga kita punya lagu yang pas yang dulu dinyanyikan oleh almarhum Nike Ardilla, ‘Duka di Dadaku’ kita mencoba mengkolaborasi dengan musik Tiga Mawarnih dengan warna fusion funk supaya ada rasa ke kinian,” ungkap Nyo.

Dengan kolaborasi musik ini lanjut Nyo, akan ada cross community antara fans Jeka, penggemar Nike Ardilla, dengan penggemar musik fusion funk, khususnya fansnya Tiga Mawarnih. Jadi mereka dapat saling membuka wawasan musik yang baru.

“Jadi ini juga bisa memperluas segmen pasarnya dari pada hanya satu musik saja,” aku Nyo.

Musik fusion funk menurut Nyo saat ini sedang banyak digemari oleh masyarakat. Hal ini terbukti dengan banyaknya café-café atau pun tempat hiburan yang memutarkan atau memainkan playlist lagu-lagu bergenre fusion funk.

“Jadi banyak tempat ngopi atau pun nongkrong, dan tempat hiburan lainnya yang memutar musik kayak Tiga Mawarnih,” kata Nyo.

Nyo menambahkan bahwa JK Records yang sebelumnya di era 80-an kental dengan lagu popnya, namun saat ini kami ingin semua genre musik ada di JK Records.

“Ya salah satunya Tiga Mawarnih ini. Sebenarnya JK Records pernah merilis musik seperti ini, tapi karena dulu penikmatnya banyak ke pop, jadi mungkin tidak terdengar lagu-lagunya,” pungkas Nyo.

Sumber.

related posts