Kerja Sama Dengan Brazil, RI Kembangkan Etanol di Papua untuk Greenfuel

Jakarta, BN Nasional – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan saat ini pemerintah tengah berencana mengembangkan greenfuel lewat pencampuran etanol dengan bahan bakar minyak.

Tahun ini, misalnya, PT Pertamina (Persero) telah meluncurkan produk Pertamax Green 95 yang notabene pencampuran antara Pertamax RON 92 dengan 8% etanol. Selain itu, perusahaan pelat merah tersebut juga telah menyalurkan perdana BBM berbasis CPO sebanyak 35% (B35) yang dicampurkan ke dalam BBM jenis minyak solar.

Menteri Arifin pun tak menutup kemungkinan untuk mencampurkan Pertalite dengan 7% etanol supaya bisa menjadi greenfuel.

“Tentu bisa, Kita kalau mau menuju green, itu udah ada satu B35 dan tahun depan bikin B40,” kata Arifin saat ditemui di Kementerian ESDM, Jumat (1/9/2023).

Namun demikian, dia mengakui sumber etanol di dalam negeri relatif masih jarang. Untuk itu beberapa waktu lalu, pemerintah telah melakukan uji coba produksi di Provinsi Jawa Timur.

Baca juga  Ini Dia Deretan Mobil Listrik yang Mendapat Insentif Rp80 Juta dari Pemerintah

“Kemarin baru uji coba di Jawa Timur. Kalau itu bisa kita produksi, kebun-kebun di sana akan diupayakan dengan teknologi yang dari Brazil untuk bisa produksi itu,” katanya.

Jika uji coba di Jawa Timur berhasil, pemerintah akan melihat potensi pengembangan etanol di Papua. Apalagi, kabarnya bibit-bibit tebu banyak berasal dari Papua sebelum dipindahkan ke Portugis dan Brazil.

“Nah, sekarang ini balik ke habitatnya (Papua). Kalau udah kembali ke habitatnya, bisa atau tidak kita optimalkan itu,” katanya.

Menteri Arifin menambahkan, jika etanol berhasil dikembangkan oleh pemerintah menjadi greenfuel, Indonesia diyakini bisa memiliki kemandirian seperti halnya Brazil.

“Kalau udah etanol, nanti kita akan seperti Brazil, menjadi self relience. Jadi yang kita kembangkan greenfuel, biofuel untuk Pertagreen,” jelasnya.

Dia juga meyakini produksi etanol tidak akan mengganggu produksi gula. Menurutnya guna mencegah hal itu terjadi, harus ada perluasan lahan tebu dan peningkatan produktivitas per hektare.

Baca juga  Jokowi Teken Aturan THR dan Gaji Ke-13 untuk ASN dan TNI-Polri

“Kalau kebun (tebu) kita gedein, produktivitas per hektare dibanyakin, tentu tidak berebut. Yang penting, buat makanan ada dan buat energi ada,” jelas Arifin.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati memastikan tahun depan hanya ada tiga produk gasoline yang dijual oleh Pertamina, yaitu Pertamax Green 92, Pertamax Green 95, serta Pertamax Turbo.

“Pertamax Green 92 itu mencampur BBM RON 90 (Pertalite) dengan etanol 7%, Pertamax Green 95 mencampur Pertamax dengan etanol 8%, dan produk ketiga adalah Pertamax Turbo,” kata Nicke dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VII DPR di Jakarta, Rabu (30/8).

Dia menambahkan, rencana peluncuran Pertamax Green 92 sejalan dengan aturan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dimana BBM yang boleh dijual punya octan number minimal 91. Artinya, peluncuran produk baru itu sudah pas dari aspek lingkungan karena bisa menurunkan emisi karbon.

Baca juga  Tonton Live: NASA Astronot Don Pettit kembali ke Bumi pada ulang tahunnya yang ke -70 setelah 220 hari di luar angkasa

“Termasuk ada mandatory bioetanol, ini bioenergy bisa kita penuhi, ketiga kita menekan impor gasoline,” katanya.

Langkah tersebut menjadi gambaran bahwa Pertamina lebih memilih upaya untuk menciptakan demand supaya industri etanol di dalam negeri tumbuh dan menarik bagi investor.

Dengan mendorong demand bioenergi, Nicke berharap pada tahun 2025 ada peningkatan investasi pada sektor tersebut. Apalagi, pemerintah juga sudah menerbitkan perpres guna mengalokasikan 700 ribu hektare lahan bagi swasembada gula maupun etanol.

“Dari situ kita berharap penambahan suplai 1,2 juta kl (etanol) untuk pencampuran dari gasoline,” jelasnya.