JAKARTA, BN NASIONAL
INDUSTRI nikel di Sulawesi utamakan PLTU batubara, ungkap WALHI Sulsel. Lebih dari setengah PLTU Captive di Indonesia berlokasi di sana. Demikian isi laporan Aliansi Sulawesi Terbarukan tentang kerusakan ekologi dan dampak sosial.
Muhammad Al Amin, Direktur Eksekutif WALHI Sulsel, menekankan pentingnya lingkungan dan masyarakat. “Kami minta hentikan kerusakan oleh PLTU Captive,” tegasnya.
Laporan tersebut menyebut 5,6 GW kapasitas pembangkit di Sulawesi. PLTU ini bawa pelanggaran HAM dan masalah kesehatan lokal.
Sulawesi Tengah dan Tenggara hadapi kerusakan dari PLTU Captive. Masyarakat kehilangan hak atas lingkungan bersih dan mata pencaharian karena polusi.
Meskipun ada komitmen dekarbonisasi Presiden Jokowi, 13 unit PLTU masih dibangun dengan kapasitas 4,3 GW. Ini tunjukkan industrialisasi Indonesia masih tergantung pada batubara.
Ahmad Ashov Birry, Direktur Kampanye Trend Asia, menyoroti kekacauan tata kelola industri ini. “Ini bisa cegah transisi energi adil dan menjadi kutukan baru bagi Indonesia,” ujar Ahmad.
Ia juga menyoroti skandal korupsi yang melibatkan pejabat tinggi dan masalah ekspor ilegal nikel. “Indonesia perlu perbaikan, dan negara importir harus mendukung, bukan mengeksploitasi,” tambah Ahmad.(*)





