JAKARTA, BN NASIONAL – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, produk hilirisasi lanjutan dari komoditas timah dapat mempengaruhi harga dunia.
Pasalnya, Indonesia menjadi eksportir timah nomor satu di dunia sebanyak 74.408 ton, dengan rincian 19.825 ton dar PT Timah Tbk dan 54.255 ton dari pihak swasta.
“Tau tidak, timah itu kita ekspor terbesar nomor satu dunia. Poduksi terbesar di China, nomor dua Indonesia, tapi ekspor timah nya aja, kita terbesar dunia,” kata Bahlil dalam diskusi bertajuk ‘Hilirisasi untuk Negeri’ di Jakarta, Senin (11/12/2023).
Saat ini, hilirisasi timah di dalam negeri baru pada produk tin chemical, tin solder, dan tin plate. Bahlil menyayangkan hal tersebut tidak dilanjutkan pada pengaplikasiannya.
“Sayangkan kalau kita mampu melakukan hilrisai lagi, maka itu akan mempengaruhi harga timah dunia, kebijakan dunia,” ujarnya.
Indonesia sendiri menjadi produsen logam timah terbesar kedua dengan kontribusi sekitar 25 persen dari produksi dunia. Hanya 3 persen dari produksi timah indonesia yang diserap pasar domestik, sisanya diekspor dalam bentuk logam.
Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya industri hilir di Indonesia. Padahal logam timah banyak digunakan pada sektor otomotif, elektronik, dan kimia.
Sejak tahun 2002, pemerintah telah melarang ekspor timah dalam bentuk pasir yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 443 Tahun 2002. Timah yang boleh diekspor hanya dalam bentuk logam yang telah melalui proses peleburan di industri.
Untuk memperketat ekspor, pada tahun 2013 ekspor timah hanya diperbolehkan melalui pencatatan sistem bursa berjangka.
Kemudian tahun 2015 pemerintah mewajibkan ekspor timah bentuk logam dengan kadar 99,9 persen, timah solder 99,7 persen, dan bentuk lainnya 96 persen melalui Permendag Nomor 33 Tahun 2015. (LBY)





