Jakarta, BN Nasional – Berdasarkan parameter standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk menuju memasuki fase endemi Covid-19, negara harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Yakni tingkat penularan atau reproduction number (Rt) di bawah 1, kapasitas tempat tidur (bed occupancy rate/BOR) 8%, positivity rate 4% dan tuntasnya vaksinasi 70% dari total populasi penduduk.
Dosen Peneliti Bidang Keilmuan Matematika Epidemiologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Dipo Aldila menyatakan pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengikuti parameter di bawah standar WHO tersebut.
“Tentunya Kemenkes maupun para epidemiolog memiliki dasar atau rumusan yang sejalan dengan WHO. Kemudian data di lapangan itu dikalibrasi dengan model tertentu. Perbedaan model tentu akan memberikan prediksi yang berbeda,” jelasnya ketika dihubungi Beritasatu.com, Sabtu (2/4/2022).
Ia menjelaskan tidak mengetahui pasti Kemenkes sekompleks melibatkan parameter apa saja. Namun diyakini hal tersebut sudah ditangani oleh ahlinya di pemerintahan dan tentu banyak peneliti yang terlibat didalam kapan fase endemi Covid-19 bisa terjadi di Indonesia.
“Kapan terjadi saya tidak berani menjawab karena hal itu bergantung dari intensitas pemerintah untuk melakukan berbagai intervensi pencegahannya, dalam hal ini terkait dengan vaksin booster. Kemudian upaya untuk tetap menjaga protokol kesehatan,” jelasnya.
Kalau semua itu, lanjut Dipo, tetap bisa dijaga, ia meyakini prediksi pemerintah yakni 3-6 bulan itu tidaklah meleset. Namun yang menjadi permasalahan kalau masyarakat lengah prokes dan lainnya, karena kebiasaan masyarakat tidaklah mudah diubah. Hal itulah yang membuat prediksi tersebut bisa menjadi tak terduga lagi. Jadi belum bisa ditentukan fase endemi Covid-19 ini.
“Jadi saya tidak berani mengatakan bahwa angkanya tepat seperti itu. Tapi kalau pemerintah mengatakan angka seperti itu, saya yakin ada dasarnya dengan asumsi bahwa apa yang mereka prediksi ke depannya itu tidak terjadi perubahan secara drastis,” urainya.
Jadi tidak ada perubahan dari faktor sosial dan lingkungan yang secara drastis mengubah esensi dari model yang digunakan untuk memprediksi. Kalau hal itu tidak terjadi, maka bisa tercapai dalam waktu 3-6 bulan yang diklaim oleh pemerintah itu seharusnya bisa tercapai.
“Kami pun sebenarnya melakukan penghitungan dengan model tertentu yang hampir sama dengan para epidemiolog termasuk dari FKM UI terkait syarat fase endemi Covid-19 beberapa bulan yang lalu. Namun kini tidak di-update lagi,” jelasnya.
Menurutnya, FMIPA juga sudah membuat penelitian bahwa reproduction number (Rt) di bawah angka 1 karena bergantung pada waktu dan dilakukan saat pemerintah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diperketat lagi aturan lainnya.
“Jadi memang betul Rt-nya di bawah 1 seperti yang disampaikan pemerintah dan epidemiolog, termasuk ukuran BOR 8% dan positivity rate 4%,” kata dia.
Mudik
Sementara untuk fenomena mudik 2022 ini, Dipo memprediksi masih berpotensi menaikkan angka kasus Covid-19 meski sudah ada capaian vaksinasi serta jenis virus saat ini. Namun hal tersebut diyakini tidaklah terlalu signifikan karena di banyak negara termasuk di Indonesia sudah mengklaim bahwa varian Covid yang sekarang gejalanya lebih rendah dan kecil serta tidak lagi seperti sebelumnya.
“Jadi bisa jadi, nantinya orang yang terinfeksi tidak sadar sehingga pemerintah tidak bisa mengecek bahwa keberadaan positif orang itu,” ungkapnya.
Covid-19 ini termasuk salah satu virus yang paling mudah bermutasi dan itu secara natural sudah dari zaman dulu semua organisme ketika ingin bertahan, maka harus menyebar. Tetaapi gejala yang ditimbulkan ke orang yang terinfeksi itu tidak separah dahulu lagi.
“Jadi tidak menutup kemungkinan kasusnya di lapangan tidak signifikan seperti tahun lalu atau 2 tahun terakhir karena pemerintah meminta yang mudik wajib vaksinasi booster dan antigen atau PCR bagi mereka yang baru dosis satu atau dua agar bisa mengantisipasi peningkatan kasus seperti 2 tahun terakhir,” pungkasnya.
Sebelumnya Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan hingga saat ini belum ada kesepakatan mengenai parameter untuk memasuki fase endemi Covid-19.
“Hingga saat ini belum, karena masih dibahas. Tetapi diperkirakan sekitar 6 bulan hanya menentukan waktunya mulai kapan, ini yang masih dibahas,” kata Nadia ketika dihubungi Beritasatu.com, Rabu (30/3/2022).
Menurutnya, dengan angka kasus Covid-19 yang terus menurun saat ini Indonesia berada pada masa pengendalian pandemi, belum menuju transisi endemi atau sudah memasuki transisi endemi.
Nadia menyebutkan, saat ini angka Rt (effective reproduction number) Covid-19 belum di bawah 1, keterisian tempat tidur (bed occupancy rate/BOR) 8%, dan positivity rate 4%.
“Parameter ini sudah di bawah standar Badan Kesehatan Dunia (WHO), tetapi masih belum serendah saat sebelum varian Omicron. Jadi masih perlu kita turunkan lagi. Selain itu, kita masih mengupayakan cakupan vaksinasi mencapai minimal 70% dari total populasi Indonesia sebanyak 270 juta penduduk,” kata Nadia.
Jadi saat ini, kata Nadia, sedang memasuki masa pengendalian pandemi fase. Setelah itu nanti menjadi preendemi.
“Indikatornya adalah PPKM level 1 transmisi komunitas, Rt di bawah 1, angka perawatan rumah sakit mencapai 5 per 100.000, angka kematian di bawah 1 per 100.000, angka kasus positif di bawah 20 per 100,000 serta cakupan vaksinasi lebih dari 70% dari total populasi penduduk,” ujar Nadia.





