Jakarta, BN Nasional – Target Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) tahun 2060 atau lebih cepat dengan upaya penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) yang termasuk dalam Enhanced-Nationally Determined Contribution (E-NDC) sebesar 32% dengan kemampuan sendiri, serta penurunan 41% dengan bantuan dunia internasional pada tahun 2030.
Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (KemenkoMarves) Rachmat Kaimuddin mengungkapkan, cara menghasilkan listrik tanpa karbon dapat dilakukan dengan solar panel dan magnet.
“Mungkin ini agak teknis, kalau kita mau listrik tanpa karbon adalah lewat solar panel yang dari silika atau dari perputaran elektromagnetik jadi diputar menghasilkan magnet core ion dan kumparan tembaga,” kata Rachmad dalam acara Media Briefing Indonesia Sustainability Forum di KemenkoMarves, Selasa (22/8/2023).
Silika yang dihasilkan dari pasir kuarsa dan magnet yang dapat diperoleh dari Logam Tanah Jarang (LTJ), banyak terdapat potensi di Indonesia. Mineral tersebut juga dikategorikan dalam mineral kritis (critical mineral).
“Indonesia punya banyak, jadi Indonesia sebagai critical mineral kedepan sangat penting, kedua kita perlu untuk melakukan banyak industrialisasi untuk menghasilkan banyak energi,” katanya.
Dengan potensi cadangan yang banyak itu, Indonesia harus dapat memanfaatkannya secara maksimal agar mineral kritis tersebut dapat menjadi mineral yang kompetitif di pasar dunia.
“Ini jangan sampai kita tidak kompetitif suatu negara tidak bertumbuh tapi sisi lain tanggung jawab,” katanya.
Diketahui, magnet permanen paling digemari di dunia adalah neodymium (Nd) yang tercipta dari proses pengolahan LTJ. Monsit merupakan mineral yang paling banyak mengandung LTJ sebanyak 0,95 persen.
Menurut data Kementerian ESDM tahun 2020, potensi cadangan LTJ terbesar berada di Kepulauan Bangka Belitung, yakni mencapai 207.397 ton dengan rincian 186.663 ton berupa monasit dan 20.734 ton senotim, disusul Sumatera Utara sebesar 19.917 ton, kemudian potensi LTJ dalam bentuk laterit di Sulawesi Tengah 443 ton, dan Kalimantan Barat sebesar 219 ton.
Kajian dan riset yang dilakukan Kementerian ESDM mencatat jumlah sumber daya pasir kuarsa yang menjadi bahan baku pembuatan silika, di Indonesia mencapai 25 miliar ton dengan total cadangan yang siap produksi sebanyak 331 juta ton. (Louis/Rd)





