Kritik Terhadap Transisi Energi JETP Indonesia

JAKARTA, BN NASIONAL.

JAKARTA – Koalisi Sipil menyoroti rencana transisi energi Indonesia. Mereka berpendapat bahwa rencana JETP belum sepenuhnya mendukung transisi adil dan berkelanjutan. Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menyebut CIPP JETP memiliki tujuan ambisius tapi kontradiktif. Rencana tersebut menetapkan target bauran energi terbarukan 44% di tahun 2030. Namun, hanya dua PLTU yang di jadwalkan pensiun dini.

Bhima menekankan ketidakjelasan rencana pensiun PLTU batu bara. “Ini menunjukkan kurangnya komitmen nyata terhadap penutupan PLTU,” ujarnya. Menurut Bhima, pendanaan JETP sangat berat sebelah. Dana tersebut lebih banyak berupa pinjaman dengan bunga pasar daripada hibah.

Leonard Simanjuntak dari Greenpeace Indonesia juga mengkritik rencana ini. “Dokumen CIPP terlalu kompromistis,” katanya. “Hanya pensiun dini 1,6 GW PLTU dan tidak termasuk PLTU captive.” Leonard menambahkan bahwa rencana meningkatkan produksi minyak dan gas negara serta solusi berbasis batu bara mengancam transisi energi.

Baca juga  Ini Kata AHY Soal Bangun Poros Alternatif Berkoalisi dengan NasDem

“JETP berisiko menjadi hanya proyek simbolis,” lanjut Leonard. Koalisi Sipil meminta rencana yang lebih konkrit untuk menjamin transisi energi yang berkelanjutan.(*)