Jakarta, BN Nasional – Indonesia dalam mengatasi transisi energi dan penemaran lingkungan memiliki berberapa tantangan terutama dalam pendanaan. Penanganan perubahan iklim tersebut diprediksi membutuhkan dana Rp 3.700 triliun pada 2020 hingga 2030 mendatang. Rinciannya, angka pembiayaan ini setara Rp343 triliun per tahun.
Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Moeldoko mengatakan, dalam menuju ekonomi hijau terdepat berberapa tantangan, Indonesia juga sedang mempersiapkan anggaran untuk melakukan transformasi energi.
“Kalau kita nantinya menuju ke sana (ekonomi hijau), dana yang diperlukan itu kurang lebih Rp 3.700 triliun untuk melakukan ransisi energi dan pencemaran lingkungan, cukup besar itu tantangan pertama,” kata Moeldoko, Senin (22/5/2023).
Tantangan kedua yang menjadi ancaman bagi Indonesia adalah World Bank yang akan mengenakan tarif untuk produk-produk yang dikategorikan sebagai ‘non green’. Saat ini World Bank sudah mengingatkan kepada Uni Eropa.
“Kita sudah menuju ke sana, maka tugas kita memberi duukungan semaksmial mungkin agar isu kebijakan tentang green economy betul-betul mendapat dukungan sepenuhnya dari kita semuanya, dari masyarakat Indonesia,” katanya.
Dalam penerapannya, Indonesia saat ini masih melakukan penyesuaian pembiayaan untuk transisi energi, namun sudah mematangkan komitmennya untuk serius dalam transisi energi.
“Itu akan disesuaikan APBN karena itu long term ya, yang penting komitmennya bagi kita Indonesia sagat komit menuju kesana,” kata Moeldoko.
Presiden RI Joko Widodo juga sudah melakukan pertemuan dengan World Bank menyatakan bahwa Indonesia serius dalam melakukan transisi Energi.
“Saya kaget pertemuan dengan wold bank itu, beliau (Presiden) mengatakan ini hubungan antara ekonomi hijau dengan pertumbuhan ekonomi itu sangat clear dan apa yang disampaikan oleh beliau Indonesia sudah on the track,” Jelas Moeldoko. (Tr/Rd)





