Review Film: Yuni

by admin
3 minutes read

Jakarta, BN Nasional –Kamila Andini yang bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis skenario film ini mengajak penonton menelan kenyataan pahit menjadi seorang perempuan di sebagian daerah Indonesia lewat remaja bernama Yuni (Arawinda Kirana).

Remaja yang sederhana ini dituntut untuk memenuhi ekspektasi lingkungan yang memegang kuat kultur patriarki.

Film ini menyajikan realitas itu dengan sangat eksplisit dan mudah dipahami walau dialognya dibawakan dalam bahasa daerah Jawa-Serang, sesuai dengan lokasi syuting filmnya.

Secara garis besar, Yuni yang terinspirasi dari kisah nyata ini membingkai fenomena diskriminasi terhadap perempuan akibat budaya patriarki. Salah satunya dalam praktik pendidikan.

Yuni yang dikisahkan memiliki prestasi akademis cemerlang mendadak bermasa depan suram kala seorang lelaki yang tak ia kenal melamarnya.

Situasi itu menempatkan Yuni dalam kondisi pelik. Bagi masyarakat tempat Yuni dilahirkan, pamali bagi seorang perempuan menolak lamaran karena dianggap akan membawa malapetaka.

Sehingga, Yuni dipaksa oleh masyarakat untuk mengikuti ‘aturan’ tersebut meski keluarga intinya membebaskan remaja perempuan itu untuk tetap bersekolah.

Narasi ini tidak jauh beda dengan kenyataan yang saya hadapi, ketika suara-suara sumbang berisi perempuan tidak wajib memiliki pendidikan tinggi karena hanya memiliki ‘nasib’ menikah dan mengurus rumah tangga.

Ketidakadilan atas pemenuhan hak pendidikan untuk perempuan juga digambarkan jelas oleh Kamila Andini melalui Kepala Sekolah yang menghalangi guru Yuni, Bu Lies (Marissa Anita), dalam mendorong siswi itu mengejar pendidikan yang lebih tinggi.

Kamila Andini seolah memberikan kritikan bahwa hak untuk memperoleh pendidikan antara laki-laki dan perempuan masih belum setara di Indonesia.

Tak hanya di institusi pendidikan, budaya patriarki yang telah bercokol selama bertahun-tahun juga menyudutkan perempuan di ranah rumah tangga.

Hal ini tergambar melalui Tika (Anne Yasmine) yang dipaksa menikah saat masih duduk di bangku pertama SMA. Tika yang masih remaja mesti melepas pendidikan demi mengurus bayi, sementara suaminya bebas berkeliaran tak ada yang menentang.

Melalui adegan itu, Kamila menunjukkan realitas bahwasanya sebagian masyarakat masih terjebak dengan pemahaman “perempuan hanya layak mengisi ranah domestik”. Sedangkan laki-laki, punya keistimewaan untuk mengatur hidupnya.

Konsep itu yang ingin didobrak Kamila Andini dalam film ini. Yuni mewakili perempuan-perempuan yang ingin terbebas dari ‘aturan’ patriarki di lingkungannya dan tidak ingin hanya sekadar memenuhi ekspektasi orang-orang di sekitarnya.

Selain diskriminasi terhadap perempuan, miskonsepsi tentang pendidikan seks di lingkungan pendidikan Indonesia juga dipotret oleh film Yuni. Seperti ketika muncul wacana tes keperawanan bagi siswi dengan dalih mencegah seks di luar nikah.

Hal itu memberikan gambaran bahwa pendidikan seks hanya dipahami seputar bahaya hubungan badan semata.

Padahal materi-materi dalam pendidikan seks jauh lebih kompleks dari aspek biologis, misalnya hubungan interpersonal, kesetaraan gender, integritas tubuh, dan bahaya pernikahan usia dini yang kuat diangkat di film ini.

Konsep akan nilai perempuan dalam masyarakat yang masih patriarki itu pula yang melatarbelakangi praktik pernikahan dini dalam film Yuni, dan juga masih dilakukan di sebagian daerah di Indonesia.

Para remaja perempuan dipaksa menikah dengan banyak alasan mulai dari mencegah hamil diluar nikah yang dianggap membawa aib keluarga, hingga faktor ekonomi. Bahkan lebih jauh, pernikahan seolah dianggap sebagai “jalan keluar” segala permasalahan hidup.

Segala masalah besar yang menghantui remaja Indonesia dan dibahas dalam Yuni ini sejatinya masih jarang disinggung dunia perfilman Indonesia. Kehadiran Yuni membuka ruang diskusi baru yang lebih segar dan dibumbui lanskap Serang yang belum banyak diangkat ke layar lebar

Sumber.

related posts