Jakarta, BN Nasional – Indonesia dan Amerika Serika (AS) telah melakukan kemitraan strategis untuk mengembangkan program energi bersih di sektor energi. Kemitraan ini dilakukan oleh US Trade and Development Agency (USTDA) dengan PLN Indonesia Power yang memberikan hibah untuk membantu menilai kelayakan teknis dan ekonomi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang diusulkan di Kalimantan Barat.
Mengutip dari laman Kedutaan Besar dan Konsulat AS di Indonesia, kemitraan ini untuk mendukung minat Indonesia dalam menggunakan teknologi Small Modular Reactor (SMR) untuk memenuhi tujuan keamanan energi dan iklim.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama dengan berberapa perwakilan dari AS secara resmi mengumumkan MoU dan penandatanganan kontrak Partnership for Global Infrastructure and Investment (PGII). MoU tersebut memajukan tujuan Just Energy Transition Partnership (JETP) dan akan memperkuat kepemimpinan Indonesia di kawasan ASEAN dalam penggunaan teknologi energi bersih nuklir yang canggih, aman, dan terjamin sehingga mendukung target Net Zero Emissions di Indonesia pada 2060.
PLN Indonesia Power memilih NuScale Power OVS, LLC (NuScale) yang berbasis di Oregon untuk melakukan pendampingan dalam kemitraan dengan anak perusahaan Fluor Corporation yang berbasis di Texas dan JGC Corporation di Jepang dengan fasilitas 462 MW yang diusulkan akan memanfaatkan teknologi SMR NuScale.
Hal ini akan mencakup rencana pemilihan lokasi, rancangan pembangkit listrik dan sistem interkoneksi, penilaian dampak lingkungan dan sosial awal, penilaian risiko, perkiraan biaya, dan tinjauan peraturan.
Sebelumnya, Menteri ESDM Arifin Tasrif melakukan pertemuan dengan perusahaan asal AS yang pertama dan satu-satunya mendapatkan sertifikasi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Small Modular Reactor (SMR).
Satu-satunya perusahaan AS yang mendapatkan sertifikasi Small Modular Reactor (SMR) dari Komisi Regulasi Nuklir AS (NRC) adalah NuScale Power. SMR NuScale Power memiliki desain Advanced Light-Water dengan modul daya yang mampu menghasilkan 50 megawatt listrik yang diberi nama NuScale VOYGR SMR.
“Kemarin kita sempat ketemu sama satu perusahaan Amerika yang mendapatkan sertifikasi dari pemerintah Amerika, satu-satunya,” kata Arifin di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (17/3/2023).
Arifin menjelaskan, perusahaan tesebut sedang membangun dua PLTN SMR di AS dan Rumania yang ditargetkan akan memulai operasional dan menyalurkan listriknya pada tahun 2028 dan 2029.
“Mereka lagi bangun dua SMR, satu di Amerika satu di Rumania. Nanti akan Commercial Operation Date (COD) 2028 dan 2029,” kata Arifin.
Pertemuan tersebut terungkap dilakukan pada Juni 2022 lalu, dari laman Kedutaan Besar dan Konsulat AS di Indonesia, Arifin bertemu dengan NuScale saat 12 delegasi bisnis Amerika Serikat yang akan menjajaki peluang dan kolaborasi baru di pasar Indonesia sebagai bagian dari Misi Pengembangan Bisnis “Clean EDGE Asia”.

Arifin juga melihat perkembangan teknologi PLTN saat ini sudah mengalami peningkatan yang signifikan setelah terjadinya kecelakaan PLTN di Jepang saat tsunami melanda 2011 lalu.
“Contohnya ini ada dua yang floating ke SMR (small modular reactors) Rusia sudah mau launching itu pasang Turki sama Bangladesh. Kemudian Amerika NuScale sudah bangun juga dua SMR, satu di Amerika dan satu lagi di Rumania kalau nggak salah 2029,” kata Arifin, Jumat (25/5/2023).
“Nah kita sendiri kan merencanakannya nanti sesudah 2024, tapi ada kemungkinan bisa lebih cepat, tergantung dengan kebutuhan. Tapi memang kita harus balapan untuk bisa mengurangi emisi, karena takut nanti pemberlakuan pajak karbon kita ketinggalan barang kita tidak kompetitif,” jelasnya. (Louis/Rd)





