Alasan Indonesia Memilih NuScale untuk Pengembangan PLTN

Jakarta, BN Nasional – Melalui kerja sama Indonesia dan Amerika untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang dilakukan antara PLN Indonesia Power (IP) dan NuScale melalui US Trade and Development Agency (USTDA) membawa kabar angin segar untuk PLTN di Indonesia.

PLN IP mendapatkan hibah untuk dari NuScale untuk membantu menilai kelayakan teknis dan ekonomi PLTN yang diusulkan di Kalimantan Barat menggunakan teknologi Small Modular Reactor (SMR) untuk memenuhi tujuan keamanan energi dan iklim.

Direktur Utama PLN IP Edwin Nugrah Putra mengatakan, pihaknya mendukung teknologi SMR dari NuScale dengan alasan keamanan dan keselamatan dengan kapasitas yang kecil sehingga lebih mudah untuk diproteksi.

“Kecil ya 2x75MW kalau tidak salah, jadi skala itu modularisasi 25MW, 50MW, 75MW, dan 100MW dimodularisasi semua modul. Memang dalam perhitungan kita lebih baik ada SMR jadi lebih terlingkupin untuk proteksinya ketimbang dibangun besar, cuman apakah ekonomis atau tidak,” jelas Edwin saat ditemui di DPR RI, Rabu (5/7/2023).

Baca juga  Bukti Keberhasilan Airlangga Koordinasikan Tim Ekonomi Pemerintah, Ekonomi Tumbuh 5,3 Persen

Pemilihan lokasi di Kalimantan Barat juga ditentukan di sebuah pulau yang tidak disebutkan, namun pulau ini diklaim tidak ada penduduknya sehingga ada aman.

Listrik yang dihasilkan dari SMR ini direncanakan untuk pulau Jawa dan Kalimantan, namun hal tersebut dapat ditentukan melalui hasil dari kajian yang akan selesai pada akhir tahun 2023 ini.

“Kalau ukuran 25MW, ya tapi eskalasinya mau berapa kalau 25MW x 10 kan 250MW, dengan lokasi tersebut bisa berapa dikembangkan, itulah yang diperlukan dalam studi ini apakah beban ini ditarik sepenuhnya ke Kalimantan atau ke Jawa hasil studinya nanti yang nentuin,” jelasnya.

Proses kerja sama tersebut masih berproses dengan USTDA dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk merumuskan langkah-langkah selanjutnya dengan tenggat waktu sampai akhir tahun 2023.

“Delapan atau sepuluh bulan (kerja sama) untuk studi aja,” kata Edwin

Baca juga  Kolaborasi UK-Indonesia Menuju Energi Bersih

NuScale menjadi satu-satunya perusahaan di Amerika yang sudah mendapatkan sertifikasi SMR dari Komisi Regulasi Nuklir AS (NRC) yang memiliki desain Advance Light-Water dengan modul daya yang mampu menghasilkan 50 MW listrik yang diberi nama NuScale VOYFR SMR.

“Iya (sertifikasi), cuman belum ada realisasinya,” katanya.

Dana hibah yang didapatkan dari PLN IP melalui kerja sama ini senilai 1 juta USD digunakan untuk studi kelayakan dari awal sampai selesai.

“Untuk studi kelayakan dari lokasi yang sudah ditentukan BRIN apakah memang layak dibangun. Ukuran itu sampai ratusan ya, cuman SMR itu apakah modulnya kecil-kecil menjadi yang besar, berapa ukuran terbaiknya itu yang sedang disusun,” jelasnya. (Louis/Rd)