Jakarta, BN Nasional – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memiliki ketakutan atas kesulitan ban yang terjadi di industri pertambangan saat ini, cadangan stok ban berberapa perusahaan sudah menipis dan dapat mengancam berhentinya operasional.
Plt Direktur Jendral Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM mengatakan, pihaknya memiliki ketakutan atas krisis ban yang terjadi saat ini, dimana pergantian ban dalam operasional perusahaan itu sering dilakukan.
“Dikwahatirkan itu memang, cuman kita stok tidak dua sampai tiga bulan, tapi panjang. Penggantian ban itu sering dilakukan dan stok harus banyak,” kata Wafid saat ditemui di Kementerian ESDM, Selasa (8/8/2023).
Direktur Pembinaan Program Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, masing-masing perusahaan yang mengalami kekurangan ban juga sudah mengajukan import, salah satunya PT Pama Persada Nusantara.
“Masing-masing udah ajuin impor kok, kayak Pama setau saya udah,” katanya.
Kelangkaan ban radial untuk alat berat pertambangan dikarenakan belum ada restu impor dari Kementerian Perdagangan (Kemendag). Pihak importir masih harus melengkapi persyaratan berupa penerbitan Neraca Komoditas (NK) dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
Kebutuhan ban off the road untuk alat berat pertambangan dipenuhi melalui impor dari sejumlah negara seperti Jepang, India, Amerika Serikat dan negara lainnya.
Sebelumnya, Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batubara Irwandy Arif mengatakan, Apabila dalam waktu 1 sampai 2 bulan kedepan masih belum ada import ban dari luar negeri, maka pertambangan akan berhenti beroperasi dan mengancam cadangan batubara untuk bahan bakar PLTU batubara.
“Kalau gak ada banm gak bisa jalan produksinya. Mungkin 1-2 bulan (persediaan), bahaya juga,” kata Irwandy saat ditemui di Kementerian ESDM, Jumat (21/7/2023). (Louis/Rd)





