Jakarta, BN Nasional – Komisi VII DPR bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyepakati target lifting minyak dalam RAPBN TA 2024 di kisaran 615.000-640.000 BOPD.
Wakil Ketua Komisi VII DPR Maman Abdurrahman mengatakan bahwa penetapan target batas bawah sebesar 615.000 BOPD itu tak lepas dari asumsi realisasi triwulan pertama 2023, dimana lifting minyak mencapai 613.000 BOPD.
“Kami harapkan pemerintah serius meningkatkan produksi karena dengan begitu akan berbanding lurus dengan pendapatan negara,” kata Maman saat Raker dengan Kementerian ESDM di DPR RI, Senin (5/6/2023).
Target batas atas lifting minyak pada RAPBN 2024 itu pun menunjukkan peningkatan jika dibandingkan outlook tahun 2023, dimana lifting minyak dipatok mencapai 621.000 BOPD. Sementara Menteri ESDM Arifin Tasrif menyebut pihaknya membidik target batas atas lifting minyak pada RAPBN 2024 adalah 625.000 BOPD.
Katanya, dalam mematok target, Kementerian ESDM cenderung realistis ketimbang optimis. Pasalnya, tren lifting minyak setidaknya sejak 2018 selalu tak pernah mencapai target mengingat kualitas produksi yang menurun.
“Kita butuh upaya dan cost yang besar untuk bisa memurnikan dan di sektor pemerintah, kita sudah berupaya mendorong lewat insentif untuk program massive drilling tapi hasilnya belum seperti yang kita harapkan karena sumurnya ini sumur tua,” jelas Arifin.
Untuk itu, Arifin kini tengah mendorong terjalinnya kerja sama dengan sebuah perusahaan dari Amerika Serikat yang ahli di bidang pengeboran untuk memperbaiki kualitas produksi. Ia menyebut, proses itu merupakan proyek jangka panjang dan tidak bisa terlihat dalam waktu dekat.
“Mungkin 8-10 tahun lagi baru kelihatan hasilnya. Saat ini, negosiasi berjalan cukup lancar,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Nanang Abdul Manaf mengamini bahwa secara historis, target lifting minyak selalu menurun sejak 2017 sebesar 800.000 BOPD hingga outlook tahun 2023 sebesar 612.000 BOPD.
Dari catatan itu, Nanang mengatakan declined rate lifting minyak berada di kisaran 10%-15%. Karenanya, SKK Migas terus berupaya menahan declined tersebut antara lain melalui pengeboran sumur pengembangan, kegiatan workover, well service, hingga reaktivasi.
“Upaya itu hanya bisa menahan decline supaya bisa mengangkat angka produksi, tidak ada cara lain selain mengembangkan lapangan baru hasil temuan eksplorasi,” jelas Nanang.
Di sisi lain, Nanang menyebut semestinya lifting minyak bisa stabil di kisaran 620.000 BOPD seandainya tidak ada problem pada fasilitas produksi. Dia mengakui bahwa ada beberapa kebocoran pipa yang mengakibatkan minimnya lifting minyak di beberapa wilayah kerja strategis.
“Misalnya di Rokan, itu potensinya semua di atas estimasi, tapi karena masalah kebocoran, mau tidak mau harus ada perbaikan signifikan terhadap reliability produksi,” kata Nanang. (Louis/Rd)





