25.2 C
Jakarta

SYL Akui Beri Uang ke Firli Bahuri, Pengacara Bantah

Published:

JAKARTA, BN NASIONAL

Dalam suasana yang tegang di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (24/6), Syahrul Yasin Limpo (SYL) dengan suara berat mengakui bahwa dirinya telah memberikan uang sebesar Rp 1,3 miliar kepada Firli Bahuri saat menjabat sebagai Ketua KPK. Pengakuan ini memunculkan gelombang kehebohan di tengah persidangan yang penuh sorotan publik.

“Pernyataan yang dinyatakan tersebut dibuka dalam suatu proses persidangan sehingga hal tersebut seharusnya menjadi tambahan bukti bagi Kepolisian untuk segera melakukan tindakan paksa dengan menahan Firli Bahuri,” ujar Ketua IM57+ Institute, M Praswad Nugraha, dengan nada penuh ketegasan, Rabu (26/6).

“Firli sampai saat ini belum ditahan oleh Kepolisian dan bahkan perkembangan penyidikan atas kasus ini belum jelas ujungnya,” lanjutnya, seolah menyuarakan kekecewaan publik yang semakin dalam.

Publik pun terus mempertanyakan mengapa proses hukum terhadap Firli Bahuri tampak berjalan lamban. Praswad mengingatkan bahwa pengakuan SYL di persidangan kasus lain pun menambah bobot dugaan korupsi yang melibatkan Firli.

“Apabila masih memperhatikan bahwa pilihan komisioner versi Presiden telah gagal total dengan sekian banyak kontroversi etika dan bahkan pidana atas Pimpinan KPK,” kata Praswad dengan nada prihatin, menyiratkan pentingnya Pansel KPK dalam memilih calon pimpinan lembaga antirasuah yang baru.

Dikutip dari kumparan, Penetapan Firli Bahuri sebagai tersangka pemerasan oleh Penyidik Polda Metro Jaya pada 22 November 2023 semakin memperburuk citra institusi tersebut. Hingga kini, Firli belum juga ditahan, dan berkas perkaranya tiga kali dikembalikan oleh Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta karena dianggap belum lengkap.

Di sisi lain, Kuasa hukum Firli Bahuri, Ian Iskandar, dengan tegas membantah tuduhan tersebut.

“Yang disampaikan oleh SYL dan para pihak terkait yang memberikan keterangan adalah fitnah dan kebohongan berulang,” kata Ian dengan nada yang tajam.

Ian merinci kebohongan-kebohongan yang ia klaim dimulai dari keterangan ajudan SYL, Panji, yang menyebut Firli meminta uang Rp 50 miliar. Selanjutnya, ada keterangan dari eks Sekjen Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono, mengenai sharing dana sebesar Rp 800 juta untuk Firli guna mengantisipasi penyelidikan KPK tentang pengadaan sapi yang bermasalah di Kementan.

“Ditanya juga, kapan, di mana, [dijawab] tidak tahu ditanya sama Majelis Hakim. Ini kedua, kebohongan,” ujar Ian dengan tegas. Ia menekankan bahwa pada saat penyelidikan, tidak ditemukan bukti penyerahan uang yang dimaksud.

Ian juga menyoroti inkonsistensi dalam keterangan yang diberikan oleh SYL di persidangan. “Katanya dia di-WA [WhatsApp] oleh Pak Firli, gitu. Sehingga datang ke GOR, tanggal 2 Maret. Katanya juga, ada penyerahan dana pada saat dia datang itu dari ajudannya Panji ke yang namanya Kevin [ajudan Firli],” jelas Ian.

Ian menegaskan bahwa saat pemeriksaan, Panji sendiri tidak tahu siapa Kevin itu.

“Ternyata faktanya juga, pada saat itu Kevin lagi sakit, ada keterangan dari dokter bahwa Kevin tidak ada pada saat di GOR itu, Kevin lagi sakit COVID,” imbuh Ian, memperkuat argumennya bahwa tuduhan tersebut adalah serangkaian kebohongan yang dibuat oleh SYL dan bawahannya.

Dengan suara bergetar penuh keyakinan, Ian menutup keterangannya. “Jadi, ini serangkaian kebohongan yang dibuat oleh Pak SYL dan bawahannya. Jadi fitnah. Jadi jelas-jelas fitnah, kebohongan berulang,” pungkasnya.

Sidang ini, yang seharusnya menjadi tempat mencari kebenaran, kini berubah menjadi arena perseteruan sengit antara tuduhan dan bantahan, sementara publik menanti dengan cemas perkembangan kasus yang mempengaruhi integritas pemberantasan korupsi di Indonesia.**

Related articles

Recent articles

spot_img